Karya Yissa Luthana

Mas Jayus KW 3

“Cerpen Satire Tentang Keadilan di Negeri Ini  dan Mas Jayus” (eja lagi, JAYUS … bukan ….. )

…. cerita ini hanya fiksi belaka dan apabila ada kemiripan “Takdir”, anggap itu sebagai “Jodoh” ….

SUATU SIANG DI KOTA SUKA SUKA

Mak Ijah sedang asyik-asyiknya mencuci pakaian tetangga sambil mendengarkan berita televisI tentang penjara mewah bagi koruptor kelas kakap, saat dua petugas polisi mendatangi gubuk deritanya. Tanpa menjelaskan apa maksud kedatangannya, dua polisi bertampang sangar itu membawa Mak Ijah ke rumah sakit yang terletak di dekat pasar kota menggunakan mobil dinas mereka. Sepanjang perjalanan, Mak Ijah terus bertanya-tanya kenapa dia dibawa, apa salahnya, karena ia yakin seumur hidupnya cuma sekali mengutil satu siung bawang putih saat belanja di pasar. Dua polisi itu masih diam membisu. Sampai di depan rumah sakit, mereka langsung mengajak turun Mak Ijah lalu menuntunnya masuk ke rumah sakit, menuju kamar mayat. Mak Ijah ketakutan karena sepertinya jawaban dari pertanyaannya ada di dalam kamar mayat. Siapa yang menjadi mayat? Itulah pertanyaan yang berkecambuk di benak Mak Ijah. Wanita tua itu melihat seorang wanita berbadan gemuk, menenteng tas Hermes KW 2, dan kantong plastik putih (transparan) berisi gorengan yang dilengkapi dengan cabai hijau. Wajahnya yang tak rapi memoles make-up dipenuhi keringat hingga dagunya bagaikan genteng saat diguyur hujan. Mak Ijah tak tahu siapa wanita itu. Kenapa dia terlihat panik dan menangis? Mak Ijah melaluinya, dan wanita bernama Mirna itu menatap Mak Ijah dengan mata berlinangan air mata.

Mirna menengok Mak Ijah yang dibawa dua petugas polisi ke kamar otopsi. Tak lama, Mirna mendengar tangis dan teriakan Mak Ijah. Saat ini Mak Ijah sedang mengidentifikasi mayat anak sulungnya, Burham, yang mati dikeroyok karena mencopet tas Hermes KW 2 milik Mirna. Selain dompet yang juga bermerk KW 2, uang, ponsel, Mirna menyimpan dua wig (rambut palsu) model primitif dan sebuah kacamata di dalam tas. Burham mencopetnya saat Mirna sedang asyik menikmati gorengan dan cabai hijau di penjual asongan dekat halte pasar. Rencananya, siang itu Mirna akan mendatangi salah satu saudaranya yang sedang berlibur dari penjara. Tapi Burham menunda misi mulianya.

Mirna tak menyangka kalau teriakannya dengan suara falsetto, “Copet!!!” saat Burham merampas tas Hermes KW 2 nya itu akan berbuah petaka. Burham dikejar masa hingga akhirnya tewas dikeroyok. Kini Mirna harus mengampuni Burham ataukah meminta maaf ke Mak Ijah karena gara-gara wig dalam tas Hermes KW 2 nya itu, Burham anak Mak Ijah tewas terkapar dengan kulit lebam dan kepala pecah di ruang otopsi kamar mayat? Mirna benar-benar bingung. Ia melihat Mak Ijah keluar dari ruang otopsi dengan wajah dihujani air mata. Mirna mendekati Mak Ijah dan memapahnya ke ruang duduk di depan kamar mayat. Mirna melihat Mak Ijah sangat shock dan terpukul. Wanita tua itu telah kehilangan anak sulungnya, dan Mirna mengenggam erat tas Hermes KW 2 nya yang berisi dua wig model lama. Tak tahu cara menghibur mak Ijah, Mirna membuka tasnya dan mengeluarkan satu wig, lalu memberikannya ke Mak Ijah. Mak Ijah diam seribu bahasa, menatap Mirna dengan mata sembabnya. Ia tak mengerti apa maksud Mirna memberikannya wig model lama karena ia bukan waria. Wanita tua itu semakin bingung saat Mirna memberinya sekantong gorengan padahal ia sedang berduka dan tidak lapar.

“Maaf. Maafkan saya. Semua ini bukan salah saya. Anak anda yang mencopet tas saya.”

Mirna meninggalkan Mak Ijah seorang diri di ruang duduk kamar mayat. Mak Ijah tak tahu harus marah ataukah tertawa? Ia mengambil wig pemberian Mirna lalu memakainya. Tangisnya masih terdengar sesenggukan. Tak ada gairah untuk menguyah gorengan karena kini anaknya kaku membisu di ruang otopsi yang dingin itu. Mak Ijah mengambil cabai-cabai hijau dalam kantong gorengan yang ada di depannya. Wanita itu lalu memakan semua cabai hijau itu untuk bisa mengeluarkan tangisnya. Semakin lama, semakin keras tangisannya. Ia tahu, sekeras apapun tangisannya, keadilan masih sulit mendengar orang papah sepertinya.

>>

Lepas dari rumah sakit, Mirna buru-buru mendatangi rumah saudaranya yang sedang berlibur dari penjara. Mirna mengetuk mobil saudaranya itu. Saudara Mirna adalah seorang pria berparas tampan dengan wajah khas bangsawan. Ia diduga menggelapkan begitu banyak uang Negara dan seharusnya sekarang masih duduk menyulam di dalam penjara. Tapi uang yang ia rampas itu kini juga bisa membeli kebebasannya. Mengaku suntuk dan tak nyaman dengan AC di dalam penjara, saudara Mirna itu berlibur sebentar dari penjara. Bali adalah tujuannya. Pria yang sangat mengagumi Fashion era 80-an itu pun memesan wig khusus model lama untuk melengkapi mode pakaiannya. Mirna hanya membawa satu untuknya, karena yang satu lagi sudah diberikan Mirna ke Mak Ijah. Saudara Mirna itu tak mempermasalahkannya karena ia sedang buru-buru. Mirna melambaikan tangan saat mobil mewah saudaranya pergi menjauhinya. Mirna berteriak meminta oleh-oleh “Tas Hermes KW 1 ya Bang Jayus!”. Mirna lalu berbalik arah dan berjalan dengan gemulainya, menghayal tentang tas barunya. Setidaknya, minggu depan hiasan tangannya akan naik satu kelas dari KW DUA.

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s