Jahe atau dalam bahasa yunani Zingiberi termasuk suku Zingiberaceae. Jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. impangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas disebabkan enyawa keton bernama zingeron. Jahe biasanya digunakan sebagai obat tradisional dan bumbu masak.

Rimpang jahe mengandung minyak atsiri yang terdiri dari senyawa-senyawa seskuiterpen, ingiberen, zingeron, oleoresin, kamfena, limonen, borneol, sineol, sitral, zingiberal, felandren.  Di samping itu terdapat juga pati, damar, asam-asam organik seperti asam malat dan asam oksalat, Vitamin A, B, dan C, serta senyawa-senyawa flavonoid dan polifenol. Adanya minyak atsiri pada jahe menyebabkan aroma jahe harum, sedangkan oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak menguap. Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1–3 persen berat (Chrubasik, 2005)

Gingerol

Rasa pedas pada Jahe diakibatkan adanya senyawa gingerol (Chrubasik, 2005). Gingerol merupakan senyawa yang labil terhadap panas baik selama penyimpanan maupun pada waktu permrosesan, sehingga gingerol sulit untuk dimurnikan. Rumus molekul gingerol C17H26O4. Gingerol dapat dibuat dengan dua cara yaitu dengan dehidrasi dari shogaols, yang merupakan senyawa campuran dari 3 homolog atau dengan kondensasi Retro-Aldol menjadi zingerone, 4-(3-metoksi-4 hidrophenil)-2butanone). Struktur kimia gingerol ditunjukan oleh gambar 4

Kandungan gingerol dalam minyak jahe sekitar 20 sampai 30 persen berat jahe. Tingkat kepedasan menentukan kualitas minyak jahe. Metode yang paling sederhana untuk menilai tingkat kepedasan adalah dengan organoleptik (Bhattarai, 2001). Metode tersebut sangat subyektif dan mempunyai hasil yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan HPLC

Efek biologic

Efek biologik jahe dikaitkan dengan kandungan senyawa yang berasa pedas. Disebutkan bahwa senyawa itu mempunyai efek memacu reseptor termoregulasi yang akan mempengaruhi usus dan sekresi empedu secara reflektoris. Telah ditunjukkan bahwa minyak atsiri dan 6-gingerol serta 10-gingerol merupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap efek kolagoga jahe. Disamping itu, 6-gingerol, 6-gingerdion dan 10-gingerdion mempunyai efek menghambat biosintesis prosta-glandin.15) Efek lain telah dilaporkan bahwa infusa jahe ternyata memberikan potensi pada trakhea kelinci terpisah yang telah dipacu dengan bronko-konstriktor sehingga secara logika kurang menguntungkan jika digunakan pada penyakit asma, walaupun efek pada percobaan in vitro tidak selamanya sama dengan efek klinisnya. Jahe juga dilaporkan mempunyai aktivitas proteolitik dan mampu menghambat pertumbuhan Pseudomonas solanacearum.

Pada pemberian intragastrikal 200 ml dekok 25% akan terjadi stimulasi selama 24 jam yang diikuti dengan sekresi cairan lambung. Pada takaran 0,1; 0,5 dan 1 gram jahe dapat terjadi peningkatan cairan lambung dan asam lambung (metode Pavlof) pada anjing puasa.

Juice rimpang segar terbukti memiliki efek hipoglikemik terhadap kelinci dan mencit puasa. Turunnya kadar gula darah secara drastis pada hewan percobaan sehat (kadar gula normal) sedang diteliti mekanismenya.3)

Efek emetika yang diakibatkan karena kupri-sulfat pada anjing dapat ditekan pada pemberian intragastrikal; akan tetapi tidak menghambat efek emetika yang diakibatkan dari apomorfine atau digitalis pada merpati (mempunyai efek antiemetika perifer). Efek antiemetika disebabkan dari Zingeron, Zogaol (Shogaol).

Serbuk Jahe dapat digunakan untuk mencegah terjadinya muntah akibat mabuk kendaraan. Selain itu memiliki potensi sebagai antiinflamasi.

Secara empiris, jahe diketahui berkhasiat merangsang kelenjar pencernaan sehingga baik untuk membangkitkan nafsu makan. Minyak jahe yang berisi gingerol, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah. Jahe segar yang ditumbuk halus juga dapat digunakan sebagai obat luar untuk mengatasi mulas. Beberapa khasiat jahe juga telah dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian di laboratorium. Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke dan serangan jantung. Jahe dapat mencegah mual melalui proses blokade serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual.

Tidak hanya itu, jahe ternyata berkhasiat sebagai antibakteri. Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis yang bersifat patogen terhadap saluran pencernaan manusia dapat dihambat pertumbuhan koloninya dengan ekstrak jahe. Namun ekstrak jahe lebih aktif menghambat pertumbuhan koloni bakteri B.subtilis dibandingkan dengan bakteri E.coli (Nursal, 2006). Bakteri E.coli dapat menyebabkan gastroentritis pada manusia, sedangkan B.subtilis dapat menyebabkan kerusakan pada makanan kaleng yang juga dapat menyebabkan gastroentritis pada manusia yang mengkonsumsinya.

Jenis bakteri patogen lain yang dapat dihambat pertumbuhannya adalah bakteri penyebab tuberkulosis, bakteri periodontal yang menyebabkan periodontitis, dan bakteri yang menyerang saluran pernafasan. Ekstrak etanol rimpang jahe merah menunjukkan aktivitas antituberkulosis terhadap M.tuberkulosis galur H37Rv, Labkes-232, dan Labkes-450 masing-masing pada minggu ke-2,2 dan 3 (Neng, 2006). Melalui metode tertentu pada uji penapisan antibakteri, kita dapat mengetahui pada minggu keberapa aktivitas penghambatan pertumbuhan koloni bakteri terjadi. Ekstrak rimpang jahe dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif seperti bakteri yang menyerang saluran pernafasan, diantaranya Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (Akoachere et.al, 2002). [10]-gingerol dan [12]-gingerol, yaitu senyawa yang berhasil diisolasi dari rimpang jahe menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat secara in vitro melawan bakteri anaerob yang menyebabkan periodontitis pada rongga mulut manusia (Park, 2008).

Secara in vitro Zingeron dan Zogaol dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhi dan Vibrio cholerae. Ekstrak air (1:1) dapat menghambat pertumbuhan Trichophyton violaceum.6)

 

Sistem Imunitas

Jahe ternyata mengandung berbagai senyawa fenolik yang dapat diekstrak dengan pelarut organik dan menghasilkan minyak yang disebut oloeresin. Dalam oloeresin jahe banyak terkandung senyawa fenolik seperti gingerol dan shogaol yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi melebihi aktivitas antioksidan vitamin E.

Penelitian yang dilakukan di Institut Pertanian Bogor dan didanai dengan dana proyek hibah Pascasarjana mengamati dampak jahe pada sel-sel imun tikus percobaan yang dilanjutkan dengan penelitian pada manusia.

Pada tikus percobaan, hewan diberi minuman jahe setara dengan dua atau tiga gelas minuman jahe dengan rasa yang dapat diterima manusia selama enam minggu. Pada akhir percobaan, sel-sel imun dari limfa tikus dikeluarkan lalu dikultur secara in vitro dengan media pertumbuhan sintetik. Dengan cara ini performa sel-sel imun tikus yang telah diberi minuman jahe dapat diamati.

Hasil pengamatan menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan pertumbuhan sel imun secara sangat signifikan dari tikus yang mendapat minuman jahe. Adapun jenis sel imun yang peningkatan pertumbuhannya paling tinggi adalah jenis sel imun yang disebut natural killer (NK).

Sel imun ini amat penting karena NK merupakan sel imun yang bertugas menghancurkan sel-sel tubuh yang terinfeksi virus sehingga virus ikut mati.

Selain itu, sel NK juga bertugas menghancurkan sel-sel tubuh yang telah mengalami mutasi genetik. Sebagaimana diketahui, satu saja sel tubuh yang mengalami mutasi dan berkesempatan untuk hidup terus dapat menjadi cikal bakal sel-sel kanker.

Penemuan khasiat jahe pada tikus dinilai perlu mendapat perhatian sehingga penelitian yang setara dilanjutkan dengan percobaan pada manusia.

Penelitian pada manusia melibatkan 22 mahasiswa pria sehat sebagai responden yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama sebagai placebo, yaitu tidak mendapat minuman jahe, sedangkan kelompok kedua adalah kelompok yang mendapat minuman jahe. Mereka menyetujui dan menandatangani kontrak penelitian yang meliputi kewajiban meminum minuman jahe setiap sore hari selama tiga puluh hari dan tidak mengonsumsi makanan jajanan kecuali yang disediakan. Sebagai imbalan, mereka mendapat makanan secara gratis dan kenang-kenangan.

Resep minuman jahe yang diberikan tidak banyak berbeda dengan resep minuman jahe yang umum dibuat di dapur keluarga Indonesia, yaitu jahe diparut, dimasak dengan air sampai mendidih, disaring, lalu diberi gula pasir secukupnya. Minuman jahe disiapkan setiap sore dan diberikan pada mahasiswa responden secara segar.

Sebelum dan sesudah penelitian, para mahasiswa diperiksa oleh dokter umum di klinik lokal di Bogor sehingga dapat dipastikan bahwa semua berada dalam keadaan sehat. Darah mahasiswa diambil secara steril di klinik, lalu sel-sel imun dalam darah dipisahkan dan dikultur untuk diamati kemampuannya.

Hasil yang diperoleh memperlihatkan sifat yang sama dari jahe, yaitu sel-sel imun dari mahasiswa yang mendapat minuman jahe setiap sore tumbuh lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak mendapat minuman jahe.

Lebih lanjut lagi, sel NK diuji secara in vitro dengan cara diadu dengan sel-sel kanker darah atau leukemia. Hasilnya sekali lagi menunjukkan kemampuan sel NK membunuh sel kanker yang dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan sel NK dari mereka yang tidak mendapat minuman jahe.

Seperti telah dijelaskan di atas, sel NK adalah sel imun yang tugas utamanya adalah membasmi virus yang telah berhasil masuk dalam sel tubuh dan menghancurkan sel yang telah termutasi sehingga bahan atau senyawa yang dapat meningkatkan kemampuan sel imun ini dapat diartikan meningkatkan pencegahan terhadap virus dan penyakit kanker.

Perlu diperhatikan bahwa kemampuan sel-sel imun yang terlihat pada kedua hasil penelitian ini tidak ditentukan hanya oleh minuman jahe saja. Baik tikus percobaan maupun mahasiswa responden yang terlibat penelitian ini mendapat perlakuan yang baik, artinya tenteram, tidak stres, dan mendapat makanan yang bergizi seimbang.

Kemampuan sel-sel imun sangat tergantung pada zat-zat gizi yang dibawa oleh makanan. Bila zat-zat gizi telah cukup, tambahan suplemen seperti minuman jahe akan lebih meningkatkan kemampuan sel-sel imun dalam usahanya melawan berbagai mikro-organisme yang masuk dalam tubuh kita, yaitu virus dan bakteri.

Pustaka

  1. Anonim, 1980, Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen Kesehatan R.I. hal 120
  2. Anonim, 1985, Tanaman Obat Indonesia, Jilid I, Departemen Kesehatan R.I. hal 27
  3. Atal CK., & BM, Kapur, 1982, Cultivation and Utilization of Aromatic Plants., Regional Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial Research., Jammu-Tawi., India., P.206-208,222,744
  4. Atal CK., & BM, Kapur, 1982, Cultivation and Utilization of Medicinal Plants., Regional Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial Research., Jammu-Tawi., India., P.517,598
  5. Backer, G.A, and Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java Vol 2, P.Noordhoff, Groningen.
  6. Chang H.M; But, P.P.H; 1987, Pharmacology and Application of Chinese Materia Medica Vol. I The Chinese Medicinal Material Research Centre, The Chinese University of Hongkong.
  7. Hansel R; 1991 Phytopharmaka (Grundlagen und. Praxis); 2.Aufl; Spinger Verlag, Berlin p.153-154
  8. Hegnauer, R., 1986, Chemotaxonomie der Planzen., Band 7., Birkhauser Verlag, Stuttgart
  9. Mardisiswojo, S. & Rajakmangunsu-darso, H., 1987. Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, Balai Pusataka, Jakarta.
  10. Paris, R. R; Moyse M.H; 1981, Matiere Medicale., Tome II, Masson, Paris, p.80
  11. Soediarto, 1985, Tiga Puluh Tahun Penelitian Tanaman Obat, Seri Pengembangan, No.5, Pusat Perpustakaan Pertanian dan Biologi, Bogor.
  12. Tjitrosoepomo G; 1994, Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Gadjah Mada University Press, hal 422.
  13. Wichtl M; 1994, Herbal Drugs and phytopharmaceutical, Medpharm Scientific Publisher, Stuttgart, p.537-539.
  14. Wagner H; 1993, Pharmazeutische Biologie Drogen and Inhattsstoffe. 5 Aufl. Gustav Fischer Verlag-Stuttgart, p.102.
  15. Zwaving, J; 1987, Mid Career Training in Pharmacochemistry, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

One response »

  1. sone says:

    nice post, sangat membantu
    Chrubasik yang dicantumkan diatas apakah Atal CK yang ada di daftar pustaka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s