“Cerita ini fiktif belaka, meski sedikit menyebut sosok fenomenal tahun ini … diceritakan dari sudut pandang fiksi inspiratif yang positif … cerpen ini layak untuk dibaca ”

 

Penulis : Yissa Luthana

 

Dunia terasa begitu sempit tak menyisakan ruang untuknya. Setiap kali melangkah, seperti ada ratusan kerikil menghujaninya, dan puluhan pedang menghunus ke dadanya saat orang-orang menatapnya. Ia bahkan tak bisa merasakan adanya udara untuk bernapas. Sesak, sempit, perih, bingung, kosong, pasrah. Ariel oh Ariel, ia sendiri di dalam kamar gelap yang lembab, terus mengingat masa lalunya hingga tak mampu membuka cahaya masa depannya. Ia ingin merangkak mendekati pintu lalu membukanya, membiarkan cahaya mathari masuk. Namun kakinya sulit sekali digerakkan, karena terantai oleh rasa malu. Kulit kakinya dipenuhi borok aib masa lalu. Kunci rantai itu bukanlah kunci, melainkan pengampunan. Setiap hari ia duduk merenung di balik jendela kaca yang suram, menanti kapan badai akan berlalu dan membawanya pergi sangat jauh. Lalu suatu malam, ada sesosok manusia hitam menghampirinya dan memberitahunya jalan untuk bisa keluar dari belenggu kegelapan. Mati.

Pagi-pagi buta, Ariel meninggalkan kamar gelapnya. Ia berjalan sendirian, tanpa alas kaki, tanpa membawa uang, hanya menenteng gitar yang sudah menjadi belahan jiwanya. Matanya kosong, tak ada tujuan, tak tahu arah, yang ia tahu Cuma ia akan terus berjalan sampai ia menemukan kematian.

Di pinggir jalan, Ariel melihat dua tukang batu duduk memecah batu. Diam seperti patung, Ariel menatap bongkahan batu yang begitu kerasnya namun bisa pecah. Lalu ketika salah satu tukang batu itu menoleh ke arahnya, Ariel melanjutkan perjalanannya. Dan di ujung jalan, ia melihat papan reklame besar bertuliskan iklan biro konsultasi jiwa. Tulisannya seperti ini, BATU SAJA BISA PECAH APALAGI MASALAH … Konsultasikan Jiwa Anda Ke Dokter.YissaLuthana.Com.

Lagi-lagi, Ariel Cuma diam sebentar, lalu melanjutkan perjalanan.

Angin pagi berhembus begitu kencang. Udara benar-benar menusuk tulang. Kabut pegunungan membungkus tempat yang kini dipijaki Ariel dengan kesunyian. Pria itu berdiri di tepi tebing. Dari kejauhan, datang seorang kakek tua penjual kacang rebus dengan sepeda ontelnya. Kakek itu mendatangi Ariel dan bertanya apakah dia akan bunuh diri. Ariel tak menjawab, terus memandang jurang di depannya. Kakek tua itu lalu tertawa, dan menceritakan kisah singkat tetangganya.

“Setahun yang lalu teman saya juga mati bunuh diri di situ. Mungkin dulu dia berdiri di tempatmu. Saya heran sama dia. Dia stres berat sebelum mati, lalu pengen bunuh diri. Dikiranya kalau udah mati, udah gak bisa stres. Goblok benar teman kakek itu. Dia gak mikir, lah kalau dia udah mati terus arwahnya masih stress, bahkan kalau tambah stress, masa’ dia mau bunuh diri lagi? Tolong tanyakan teman kakek ya, Nak, kalau kamu udah mati entar, apa arwahnya udah bunuh diri lagi apa enggak?”

Kakek tua itu pun pergi dengan sepeda ontelnya, berlalu dan menghilang dalam tebalnya kabut pegunungan.

Ariel yang semula mantap akan meloncat ke jurang, tersadar sedikit usai mendengar omongan sang kakek. Wajahnya bergidik, ada sedikit kebimbangan yang terpancar. Ia lalu membalikkan badan. Jauh di seberang jalan sana, Ariel melihat stasiun kereta api.

Di dalam kereta, Ariel duduk dekat Lanny, seorang wanita yang sedang memakan semangkuk bubur. Saat petugas kereta meminta Ariel ongkos kereta, Ariel mengaku tak membawa uang sepeser pun. Lanny yang duduk di sebelah Ariel lalu membayar ongkos kereta pria itu dan Ariel cuma berucap, “Terimakasih” lalu diam, memiringkan duduknya ke jendela, berusaha tidur. Lanny yang melirik Ariel Cuma tersenyum memakluminya.

Beberapa menit kemudian, datang tiga orang pria, preman, pengedar narkoba di dalam kereta. Mereka tertawa melihat Lanny memakan semangkok bubur, lalu meledeknya, “Lepas dari narkoba, sekarang hijrah ke bubur ke ayam!?”

Ariel yang terbangun lalu menoleh ke arah Lanny yang Cuma tertawa saat ada orang yang mengoloknya. Masih memakan buburnya, Lanny menengok Ariel dan berkata, “Dulu aku pecandu narkoba. Tapi aku sudah berhenti. Aku berusaha lepas dari dosa mematikan yang membuatku kecanduan itu. Meski sulit, dan penuh cobaan, tapi akhirnya sekarang aku jadi pecandu bubur ayam. Nasi memang sudah menjadi bubur, tapi bukankah bubur masih bisa dimakan?”

Lagi-lagi, Ariel Cuma bengong, diam, dan memalingkan pandangan. Entahlah, apa yang sedang ia pikirkan. Saat kereta berhenti, Ariel turun dari kereta dan melanjutkan perjalanannya mencari kematiannya bersama gitar belahan jiwanya.

Ariel yang menenteng gitarnya, terlihat berjalan di tengah-tengah rel kereta api. Meski mulai agak ragu, Ariel masih meneruskan niatnya untuk bunuh diri. Pagi itu belum ada kereta, namun Ariel terus berjalan menjemput mautnya. Saat di tengah tanah lapang bersalju, Ariel berpapasan dengan seorang anak laki-laki, 13 tahun, Mogan, yang juga berjalan di atas rel sepertinya. Mereka lalu saling berhadapan, dan keduanya sama-sama tak mau keluar rel untuk memberi jalan. Akibatnya mereka Cuma saling memandang, kesal, menantang di atas rel.

“Pergilah!”Ariel membentak dengan nada berat dan angkuh.

“Enggak.”Mogan membantah.

“Pergi!”

“Enggak.”

“Apa kau mau mati?”

“Kau yang ingin mati.”

Terdengar suara sirine kereta dari arah belakang Mogan. Lampu kereta remang-remang terlihat bergerak datang dari kejauhan. Ariel panik, lalu spontan menyeret Mogan keluar dari rel. Mogan memberontak, dan menarik gitar yang yang terselempang di lengannya Ariel. Gitar itu tertarik lalu pindah tangan, namun Ariel tak menyadarinya. Usai mendorong Mogan ke gundukan salju, Ariel kembali ke rel kereta api, berdiri diam, menunggu kereta maut menabraknya. Mogan yang berdiri melongo sambil memeluk gitar hanya menggelengkan kepala.

 

“Jadi kau mau mati? Matilah! Gitar ini untukku yah, Kak!” Mogan lalu kabur.

Ariel nyalang menoleh Mogan, ia melihat gitar belahan jiwanya dibawa kabur bocah itu. Karya-karya emasnya lahir dari gitar itu. Buku perjalanan hidupnya ada di dawai gitar itu. Jiwanya ada di nada-nada gitar itu. Ia tak bisa mati tanpa gitar itu. Kereta sudah mendekatinya, namun niat bunuh diri malah kabur menjauhinya. Ariel meloncat dari rel kereta, dan berlari mengejar Mogan di antara ilalang-ilalang.

 

Sampai di pasar loak (barang bekas) yang letaknya beberapa meter dari stasiun kereta, Ariel kehilangan jejak Mogan. Bocah lelaki itu menghilang begitu cepat. Yang terlihat Cuma beberapa penjual barang bekas yang baru menggelar dagangannya. Ariel mendekatinya. Ia lupa kalau semua orang mengenalinya, namun yang tak ia lupa adalah bentuk gitarnya seperti apa. Ia tahu betul gitar coklat tua yang berdiri di gantungan kios yang ada di depannya itu adalah gitar miliknya. Rupanya Mogan si bandit kecil itu sudah menjualnya ke salah satu pemilik lapak barang bekas. Belum sempat bertanya, sang pemilik lapak sudah mengenali Ariel, dan itu membuat Ariel kabur.

 

Saat berjalan di pertigaan jalan yang cukup sepi dekat stasiun, Ariel melihat Mogan, si bandit kecil pencuri gitarnya, berjalan dengan santainya, menenteng sebuah bungkusan dalam kantong plastik. Menuju sebuah rumah semi permanen di kolong jembatan rel kereta. Ariel membuntuti langkah Mogan itu hingga sampai ke rumahnya. Saat Mogan sudah masuk ke dalam rumah, Ariel mengintip Mogan dari luar jendela rumahnya. Di dalam rumah Mogan, terlihat seorang anak yang wajahnya sangat mirip dengan Mogan, namun badannya sangat kurus, dengan wajah pucat dan mata besar membelakak. Bocah itu bernama Agan, adiknya Mogan yang menderita penyakit HIV/AIDS. Setiap pagi Agan duduk di tempat tidurnya untuk melukis apa yang ingin dilukisnya. Dan pagi itu, Mogan datang membawa sebungkus nasi dan obat untuknya. Uang untuk membeli itu semua didapat Mogan dari hasil menjual gitar milik Ariel. Ia tak tahu kalau Ariel sudah berdiri di tengah pintu rumahnya.

 

Brkkkkk. Mogan menjatuhkan termos karena begitu shock melihat Ariel sudah ada di dalam rumahnya, bagaikan polisi yang akan menangkapnya.

 

“Sorry! Gitarmu udah aku jual!”Mogan ketakutan, di samping Agan yang bingung.

Ariel diam, memandang Mogan lalu Agan. “Siapa dia?”

Mogan menunjuk Agan, “Dia? Dia adik ku.”

“Dia sakit?”

“Ya.”

Ariel lalu mendekati Agan, “Sakit apa?”

“AIDS.”

Ariel shock, “Benarkah?”

Mogan mulai merasa tenang, karena Ariel tak terlihat seperti akan menangkapnya atau memukulnya, “Hmmm….”Mogan kembali menyuapi adiknya. “Ayahku yang menularkannya ke ibuku, lalu ibuku menularkannya ke adikku.”

“Dimana ayah dan ibumu sekarang?”

“Ayah mati ketabrak kereta. Ibu mati karena AIDS.”Jawab Mogan dengan nada cuek, seperti berusaha tegar dan tak menjadikan kematian orang tuanya cerita melankolis, karena dia anak jalanan yang harus bisa hidup tegar.

“Jadi kau hidup sendirian dengan adikmu?”

“Seperti itulah?”

Agan lalu menyentuh wajah Ariel, “Apa kau juga ingin mati?”

Ariel diam memandang Agan. Wajahnya kaku.

Mogan yang masih duduk menyuapi Agan di sebelahnya lalu tertawa menatap Ariel, “Kau tak jadi bunuh diri, Kak?”

Agan menoleh Mogan, lalu memandang Ariel lagi. Dengan suara lirihnya, Agan meledek Ariel, “Daripada bunuh diri, mending tukerin aja hidupmu sama aku Kak!”

Ariel diam membisu seperti tersambar petir, lalu Mogan membisikkan sesuatu ke telinga Ariel. “Dia ingin jadi pelukis kalau sudah besar nanti. Tapi ibuku menularkannya AIDS.”

Ariel lalu meninggalkan Mogan dan Agan begitu saja. Langkahnya terburu-buru. Di tepi sungai kecil dekat rumah Mogan, Ariel duduk dengan wajah tertunduk, Air matanya menetes. Pria itu menangis.

Ariel tersadar, kalau batu saja bisa pecah apalagi masalah. Bunuh diri bukanlah jawaban untuk kabur dari masalah. Meski nasi sudah menjadi bubur, namun bukankah bubur masih bisa dimakan, yang artinya meski dirinya dianggap penuh dengan dosa, namun pasti masih ada sesuatu yang berguna dan pantas dibanggakan didirinya. Dan bila ingin bunuh diri, lebih baik ditukar saja hidupnya dengan hidup Agan, bocah penderita HIV/AIDS yang masih ingin hidup dan menghargai kehidupan.

Ariel membuka matanya. Ia masih di dalam kamarnya yang gelap dan lembab. Pelan, ia menengok ke arah pintu. Tak lama kemudian, pintu yang tertutup rapat di depannya berderit terbuka. Cahaya yang sangat terang masuk. Dan Ariel menunduk melihat telapak tangannya yang masih menggenggam rantai yang membelenggu kakinya. Ia membuka telapak tangannya. Ada kunci di sana. Dialah yang sang pemegang kunci itu. Burung-burung kecil di luar sana berkicau, “Buka… Buka…”. Ariel lalu membuka rantai yang membelenggunya dengan kunci yang dimilikinya. Lepas dari belenggu, Ariel bangkit dari sudut keterpurukan kamarnya. Ia melangkah mendekati pintu, berdiri di antara sorot cahaya putih yang begitu terang. Diraihnya gitar yang tergantung di tembok dekat pintu. Setelah itu Ariel melangkah keluar, menyapa mentari yang cukup lama tak dilihatnya. Cahaya mentari berangsur redup dan berganti sejuk. Tak ada mendung, dan tak ada badai, namun yang turun gerimis. Ariel melangkah membawa gitar. Dengan langkah pasti melihat pintu masa depan, ia melihat tujuan. Masa lalu adalah masa lalu, dan biarkan hujan yang menghapus jejakmu.

Follow saya di twitter

http://www.twitter.com/yissanovelis

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s