Cerita satire dari Yissa Luthana.

“Ketika dunia mendiskriminasinya, mampukah kacang merah dan pengalamannya menjadi cleaning service di lembaga bimbingan belajar bisa membantu Amar, si Bocah Disleksia, untuk dikatakan PINTAR?”

Amar

Amar, adalah bocah penderita disleksia. Anda tahu apa itu disleksia? Disleksia adalah ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan karena kesulitannya membaca dan menulis. Ia juga sangat sulit menghafal bahkan pelupa. Namun, meski begitu penderita disleksia diketahui memiliki kemampuan menganalisa yang lebih, kecerdasan yang bisa lebih tinggi dari orang normal, dan kelebihan pada beberapa alat inderanya. Beberapa penderita disleksia cenderung lebih menyukai pelajaran yang membutuhkan analisa dan kecerdasan tinggi, seperti matematika dan fisika.

Bagi beberapa orang yang tidak mengerti disleksia dengan gamblangnya menyebut penderitanya IDIOT. Sejak kecil hingga usianya 13 tahun, panggilan “Hai Amar” jarang didengar Amar, karena ia lebih sering mendengar “Hai Idiot”. Setiap dipanggil idiot, Amar selalu marah dan menyerang, bahkan melukai pemanggilnya. Dan karena sikapnya itu, Amar hampir tak memiliki teman di sekolahnya, SDN Kemala. Bocah itu lebih suka menyendiri bersama buku gambarnya, duduk di halaman belakang sekolah. Karakter Amar itu berbeda sekali dengan Aman Syahuda, bintang kelas sekaligus siswa terpopuler di SDN Kemala. Semua guru dan teman-temannya memanggilnya Si Jenius. Amar dan Aman adalah teman sekelas, dan mereka memiliki nomor induk yang berututan. Aman 5663 dan Amar 5664.

12 Oktober 2009, Pak Robin, kepala sekolah SDN Kemala menyuruh seluruh siswa kelas 6 berkumpul di aula. Pak Robin menyuruh sekretarisnya membagikan lembar soal ujian dan jawaban ke setiap murid yang memasuki Aula. Siang itu Pak Robin akan mengadakan ujian untuk menyeleksi siswa terbaiknya, yang akan menjadi duta olimpiade IPA tingkat sekolah dasar di Jakarta. Undangan bagi SDN Kemalanangi datangnya mendadak, dan sangat mendekati dengan hari pelaksanaan olimpiade. Itu kenapa ujian seleksi yang diadakan Pak Robin sangat mengejutkan murid-muridnya.

Sebagai murid kelas 6, Amar dan Aman pun ikut ujian seleksi itu dan masuk bebarengan melalui pintu masuk yang dijaga Pak Robin dan sekretarisnya. Pak Robin tersenyum saat Aman menyapanya, namun menatap heran dengan tatapan “meledek” saat Amar melaluinya. Pak Robin lalu memberitahu sekretarisnya, “Kenapa anak idiot itu ikut?”, lalu sekretarisnya menjawab, “Dia bukan idiot Pak, dia disleksia.”. Tersenyum masam dengan ekpresi angkuh, “Bagaimana mungkin Amar bisa dibandingkan dengan Aman. Amar setiap hari cuma minum susu kedelai dan bubur kacang merah buatan ibunya. Sedangkan Aman, selain minumnya susu-susu mahal, orang tuanya juga memasukkannya ke lembaga bimbingan belajar paling top di kota ini. Ironi ironi. Ini benar-benar ironi.”

“Anak-aanakku sekalian, jangan tulis nama kalian di lembar jawaban. Tapi tulis nomor induk kalian!!”

Di tempat lain, Laela, Ibu Amar, si janda miskin penjual susu kacang dan bubur kacang merah di pasar kota, didatangi seorang mahasiswa jurusan teknologi pangan yang sedang mengadakan riset tentang manfaat kacang merah untuk kecerdasan anak. Kedatangan Elena, nama mahasiswa itu ke lapak Laela bukan untuk menginterogasi Laela soal penelitiannya, melainkan mampir berteduh sekaligus mencicipi susu dan bubur kacang buatan Laela, obyek penelitiannya. Tak lupa Elena memfoto susu dan bubur kacang merah, dan lalu menempelkannya ke dalam artikelnya. Sembari memakan bubur, Elena sesekali mengetik literatur dalam tulisannya. Kacang merah mengandung asam lemak omega 3 dan jenis ALA dalam jumlah tinggi yang sangat penting bagi pertumbuhan dan fungsi otak (Mila, 2010).

Tak lama berselang, datang Pak Yahya, pemilik lembaga bimbingan belajar PINTARAMA yang letaknya di depan pasar. Pak Yahya mendatangi Laela untuk memberikan gaji Amar bulan itu. Sepulang sekolah, Amar membantu Pak Yahya dengan menjadi cleaning service di lembaga bimbingan belajarnya. Setiap hari juga Amar selalu mendengar kegiatan bimbingan IPA di tempatnya bekerja, meski dari luar kelas di saat ia ngepel atau mengelap kaca. Pelajaran itu terus diulang-ulang setiap hari, hingga Amar yang selalu mendengarnya lama-kelamaan bisa hafal dan menirukan gaya ngomong seorang mentor fisika dari luar kelas. Tapi siang ini, bocah disleksia itu sedang duduk manis di aula sekolahnya.

Empat jam sudah berlalu, dan seluruh murid sudah meninggalkan aula. Pak Robin dibantu staf guru langsung mengoreksi lembar jawaban pilihan ganda dari seluruh murid kelas 6. Setelah dua jam proses koreksi, didapatkan hasil bahwa murid yang memiliki nomor induk 5663 lah yang memiliki nilai terbaik, dan dialah Aman Syuhada. Pak Robin sangat senang karena ia sudah yakin kalau murid kesayangannya lah yang akan menjadi duta sekolahnya di olimpiade IPA nantinya.

Namun dua menit kemudian, seorang guru berteriak, “Di sini juga lembar jawaban dengan nomor induk 5663. Tapi nilainya buruk.”

Pak Robin shock, “Bagaimana mungkin bisa ada dua lembar jawaban dari satu nomor induk yang sama.”

Sang sekretaris datang membawa buku absensi lembar jawaban, “Ada satu murid yang tidak tercantum di absensi lembar jawaban yang sudah terkoreksi. 5664. Amar Munaf.”

“Dia memang anak idiot, makanya pelupa. Dia pasti pemilik lembar jawaban 5663 yang satunya.”Pak Robin menyimpulkan.

“Tidak bisa begitu, Pak!”

“Ya sudah pasti miliknya Aman itu yang nilainya terbaik. Mana mungkin anak idiot seperti Amar bisa jadi terbaik?”

Sekretaris Pak Robin menyela, “Itu tidak adil, Pak. Kita tidak tahu secara pasti. Kita butuh memanggil mereka.”

Pak Robin marah, “Ah… kita semua tahu Aman itu si Jenius dan Amar si Idiot. Pakai logika kalian! Sudah… tetapkan Aman sebagai juaranya. Semua orang bisa menertawakan sekolah kita kalau tahu kita mengirimkan Amar, anak idiot ke olimpiade IPA.”

Sang sekretaris kembali mengingatkan Pak Robin yang akan melangkah keluar meninggalkan aula, “Pak, dia disleksia, bukan idiot.”

Pak Robin yang sudah di ambang pintu cuma tertawa, “Ah itu sama saja!”

Sembari menulis nama Aman Syuhada di surat undangan Olimpiade IPA, sang sekretaris menggerutu, “Bagaimana mungkin orang seperti dia bisa jadi kepala sekolah.”

Meninggalkan aula, Pak Robin masuk ke dalam kantornya. Ia melihat Elena, anak sulungnya mengunjunginya. Elena duduk anteng di depan laptopnya, sementara Pak Robin masih tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.

Elena bingung, “Papa, kenapa Papa tertawa?”

Pak Robin duduk di kursinya, “Papa barusan ngadain ujian seleksi untuk nyari duta sekolah ini ke olimpiade IPA di Jakarta. Nah yang dapet nilai terbaik itu nomor induknya 5663. Yang punya nomor induk itu namanya Aman. Dia murid jenius di sekolah ini. Tapi ternyata ada murid lain yang lupa nomor induknya, lalu menulis nomor induk di lembar ujiannya 5663 juga. Nilainya buruk sekali. Setelah diperiksa sekretaris Papa, ternyata lembar jawaban 5663 yang nilainya buruk itu kemungkinan milik Amar Munaf, bocah disleksia di sekolah ini. Menurut papa sich, dia itu idiot.”

Elena menggelengkan wajahnya, “Pa, disleksia beda sama idiot.”

Pak Robin semakin tertawa, “Ah kau sama seperti sekretaris Papa.”

“Lalu Papa ngadain tes ulang lagi buat mereka. Bisa jadi lembar 5663 yang nilainya buruk itu milik siapa tadi, Aman? Orang jenius tidak selamanya jenius, Pa? Dan orang yang Papa sebut idiot juga tidak selamanya bodoh.”

“Untuk kasus ini, Aman tetaplah Jenius, dan Amar si Idiot atau apa itu, Disleksia.”

Elena tersenyum masam, “Kalau begitu Papa meremehkan mereka.”

Pak Robin bingung, “Siapa?”

“Albert Einstein dan Thomas Edisson.”

“Manusia-manusia jenius itu?”

“Iya.”

“Apa hubungannya dengan Amar?”Pak Robin benar-benar bingung.

Dan Elena tersenyum masam menatap ayahnya, “Mereka juga disleksia.”

“Benarkah?”Pak Robin shock, menjatuhkan gelasnya ke lantai

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

One response »

  1. hmmm, ini mengingatkan pada sabuah film india hebat yang sudah kutonton beberapa kali, taare zamen paar (every child is special). soal disleksia memang tak mudah, saya pikir, guru yang tidak bisa mengenali anak disleksia pun tak bisa dipersalahkan. karena disleksia adalah minoritas, dan kita cenderung menganggap yg minorits sbg ketakwajaran. belajar maklum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s