Rantai Kisah dari Koin 500 Rupiah

Penulis : Yissa Luthana

500 Rupiah

Apa yang akan anda lakukan saat ayah anda memberi uang receh Rp.500,00 di tahun 2010? Tertawa sambil menggelengkan kepala menganggap Ayah anda amnesia mengira ini tahun 1995? Memberikannya ke pengemis? Membelikannya permen? Atau mengajaknya ke telepon umum? Kalau saya, akan mengubah 500 rupiah itu menjadi cerita. Dan inilah ceritanya.

Ramon, 8 tahun, adalah anak manja seorang dokter bedah di metropolitan Jakarta. Saat ayahnya akan pergi ke rumah sakit setelah mendapat telepon darurat, Ramon merengek meminta uang untuk membeli es krim. Dokter Prayogo, ayah Ramon, merogo saku celananya dan menemukan selembar uang pun disana, hanya sebutir koin 500 rupiah. Dompet dokter itu ketinggalan di kamar, di lantai tiga rumahnya. Tak ada waktu lagi untuk berbalik arah karena pasien yang harus ditanganinya sudah diantara hidup dan mati menunggunya di rumah sakit. Dokter Prayogo memberikan koin 500 rupiah itu ke tangan Ramon, menyuruhnya mengambil sendiri uang di dompetnya yang ada di dalam kamar. Pria itu pun pergi menggunakan sedan putihnya. Tertinggal Ramon berdiri di depan pintu dengan hati dongkol. Baginya buat apa koin 500 rupiah. Bocah manja itu lalu melemparkan koin 500 rupiah-nya ke jalan di depan rumahnya. Ramon menutup pintu depan rumahnya lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Di sana ada banyak lembaran uang milik ayahnya yang tertinggal.

Setengah hari berjalan kaki, Dirman, seorang pria tuna netra mendengar suara koin terlempar di depannya. Pria yang berprofesi sebagai tukang pijat itu lalu duduk jongkok, tangannya meraba-raba pavin jalan yang ada di depannya. Koin 500 rupiah milik Ramon yang terbuang itu kini berpindah tangan, di genggaman Kang Dirman. Menjadi orang buta selama 30 tahun, membuat Kang Dirman hafal betul koin yang digenggamnya itu koin 500 rupiah. Dengan berucap Alhamdulillah, ia melangkah meneruskan perjalanannya.

Sampai di gang Dola-Doli, ada seorang pria bertubuh tambun yang sudah menjadi pelanggan pijatan Kang Dirman, memanggil tukang pijat Tuna Netra itu. Berkah Tuhan masuk di telinga Kang Dirman setelah setengah hari tak ada yang memanggil jasanya. Alhamdulillah.

Kali ini Pak Bondet, langganan Kang Dirman tak mau dipijat, melainkan minta dikerik Kang Dirman karena sopir mikrolet itu masuk angin. Kang Dirman lalu mengeluarkan koin 500 rupiah yang ia temukan di tengah jalan tadi, sebagai alat kerikan. Satu jam berlalu, Kang Dirman keluar dari rumah Pak Bondet membawa beberapa lembar uang seribuan rupiah. Ia melangkah menjauhi Gang Dola-Doli, mendatangi sebuah toko obat untuk membeli minyak urut. Kang Dirman tak tahu kalau harga minyak urut sekarang sudah naik. Uang yang ia bawa tak cukup, kurang Rp. 500,00. Terpaksa Kang Dirman memberikan koin 500 rupiah bekas alat kerikan itu sebagai tambahan. Bu Susi tak keberatan meski koin itu berbau balsem. Kang Dirman pun pulang membawa minyak urutnya, dan Bu Susi menghitung uangnya. Lalu datang seorang anak lelaki bernama Jaja. Jaja adalah anak yatim piatu yang sering dijadikan pesuruh Bu Susi. Sore itu Jaja baru saja mengantarkan pesanan obat. Atas jasanya, Bu Susi memberi Jaja uang recehan. Di antara recehan itu, ada koin 500 rupiah berbau balsem bekas milik Kang Dirman.

Jaja pulang ke rumah semi-permanennya di kolong jembatan. Ia memberikan uang recehan yang ia dapat ke ibunya untuk membeli beras. Bu Nanik, ibu Jaja senang karena hari itu ada uang jadi mereka tak akan makan nasi aking lagi. Bu Nanik pun segera pergi ke toko beras.

 

Dalam perjalanan, Bu Nanik terpeleset dan uang recehan yang ia genggam jatuh tercecer di jalanan. Bu Nanik yang panik segera memunguti recehannya. Namun setelah dihitung, uang recehan itu berkurang Rp.500,00. Bu Nanik tak tahu harus mencarinya dimana. Datang ke toko beras, uang bu Nanik tak cukup. Bu Nanik lebih kaget lagi kalau harga sembako sekarang juga naik drastis karena menjelang puasa. Meski koin 500 rupiahnya tak hilang, Bu Nanik tetap tak bisa membeli beras. Pulang-pulang, Bu Nanik hanya bisa membawa satu kilogram beras jagung karena harganya lebih murah. Hari ini Bu Nanik dan anak-anaknya masih belum bisa menikmati punelnya beras putih. Namun mereka masih bisa berucap Alhamdulillah saat nasi jagung dipadu ikan asin ada di piring mereka.

Di toko es krim, Kinanti, sedang asyik-asyiknya ngerumpi bareng teman-teman arisannya, saat anaknya Johar yang masih berusia lima tahun menemukan koin 500 rupiah di lantai toko. Bocah yang gemar memakan benda asing itu bagaikan menemukan kepingan biskuit yang begitu keras. Tanpa ragu lagi, Johar memasukkan koin 500 rupiah ke dalam mulutnya. Lima menit kemudian, Kinanti berteriak meminta tolong karena Johar sudah kaku di pangkuannya.

Usai membantu operasi pasien penderita panyakit dalam bersama dokter lainnya, Dokter Prayogo harus mengoperasi seorang balita yang menelan koin 500 rupiah hingga masuk ke kerongkongannya. Penanganan yang terlambat sedikit saja bisa membuat nyawa anak itu melayang. Setelah beberapa jam melakukan operasi, Dokter Prayogo berhasil mengeluarkan koin 500 rupiah dari kerongkongan Johar dan berhasil menyelamatkan nyawanya. Kinanti berujar Alhamdulillah. Sementara Dokter Prayogo Cuma tercengang heran melihat koin 500 rupiah di telapak tangannya.

Malam harinya, Dokter Prayogo pulang ke rumahnya. Di ruang tamu ia melihat Ramon duduk di atas sofa, menikmati sekotak es krim sambil memainkan video game. Dokter Prayogo lalu menanyakan koin 500 rupiah yang ia berikan ke Ramon tadi pagi. Bocah manja itu menjawab kalau ia sudah membuangnya ke jalan di depan rumah. Dokter Prayogo menceritakan ke anaknya kalau baru saja ada seorang ibu membayar biaya rumah sakit jutaan rupiah hanya untuk mengeluarkan koin 500 rupiah dari kerongkongan anak balitanya. Ramon Cuma diam memikirkan apa yang dimaksud sang ayah. Apakah anda juga? Hehehe……..

Salam sederhana dari saya, @Yissa Luthana

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s