Pada awal abad silam, di awal musim penghujan. Langit cerah setenang telaga ketika fajar berangsur penuh. Semburat kemerahan mulai menghiasi dari arah ufuk. Di permukaan air Sungai Kelekar terpantul bayangan bulan bulat sempurna yang mengapung di angkasa, berwarna lembut keemasan. Ini adalah awal hari yang biasa di Prabumulih. Sebuah angkung* berderak ditarik seekor sapi melintasi jalan tanah berlumpur yang sepi. Penuh dimuati hasil bumi berupa nanas, umbi-umbian dan sesayur. Jejak roda kayu tergurat jelas di bawah sinar purnama.

Kisah di atas adalah pembuka salah satu dongeng yang dituturkan nenekku sembari mengantarkanku terlelap. Sesaat setelah mengecilkan nyala lampu teplok dengan memutar tuas pengatur sumbu, kisah itu ia lanjutkan.

”Andai-andai ** ini bukanlah tentang langit, bayang-bayang bulan, angkung sapi, ataupun bulan purnama,” suara nenek berhenti sebentar. Berganti suara daun sirih yang dipepak tercampur liur di balik keriput bibirnya yang tampak bagai kulit jeruk purut.

Memang bukan. Sebagaimana andai-andai yang disampaikan nenekku — belakangan ini aku mengira-ngira semua hanya buah rekaannya — inti cerita berada di tengah kisah.

Sapi yang menarik angkung sesekali melenguh. Di atas angkung seorang laki-laki, petani berusia lanjut, terkantuk-kantuk mengendalikan arah langkah sapi. Pagi buta masih menyisakan kantuk di mata tuanya. Sepotong biji pinang yang semula hanya dikulum, ia kunyah meredam rasa berat di pelupuk mata.

Perjalanan yang ditempuh tidaklah jauh. Kurang lebih satu pal***. Bermula dari sepetak ladang, dan tak lama lagi perjalanan berujung. Dua kelokan lagi. Hasil bumi di atas angkung, nanas dan ragam sayuran, akan diturunkan menjadi barang dagangan, di tepian Sungai Kelekar.

Tepatnya di sebuah kalangan, pasar yang hanya terjadi sekali dalam sepekan, terletak persis di jantung sebuah dusun kecil. Di sana sapi akan beristirahat hingga tanah memutih dan seisi angkung ludes terjual.

Sebelum matahari tinggi, si sapi dan petani tua dan berikut angkungnya sudah kembali ke ladang. Petani tua duduk mengasoh di atas bilah-bilah bambu, alas dangau. Di tengah kenikmatan menghisap linting tembakau bawaan dari kalangan, ia sapukan pandangan kitari ladang. Ladang kecil berukuran hanya beberapa sekat****. Dua tahun lalu, ladang yang mulanya sebuah hutan tua ini bisa disebut huma. Telah dua kali padi ditanam dan diketam. Ketika huma masih digolongkan ume himbe ***** dan punggas ******. Meski masih bisa disebut punggas, tidaklah lagi biasa ditanami padi. Kesuburan tanahnya telah berkurang.

Sebagaimana para peladang, petani tua ini sudah harus mengelola sebuah ume himbe baru. Tapi tenaganya sudah tak cukup lagi untuk membuka hutan. Lagi pula ia sebatang kara. Karenanya, ia memutuskan untuk mengurus ladangnya ini saja, menggantungkan hidup dari tetumbuhan apa saja yang ia tandurkan.

Petani tua itu yakin, meski kandungan hara tidak sebanyak sebuah huma baru, ladangnya bisa diandalkan. Beberapa hari sejak musim hujan ia mendapati butir-butir tanah lengket sebesar kerikil. Tersebar merata di balik dedaunan dan sisa jerami. Orang-orang menyebut butir tanah itu sebagai ‘tahi cacing‘. Itu artinya, tanahnya cukup subur.

Demikian memang. Ratusan, ribuan, mungkin jutaan cacing yang bersuka mengurai dedaunan dan jerami melunakkan tanah di ladang itu. Mereka membuat petani tua pemilik ladang tak perlu bersusah payah mengolah tanah. Tetumbuhan yang ditandur di sana tumbuh hijau dan gemuk. Angkung petani tua pemilik ladang selalu penuh dengan sesayur, nanas, dan umbi-umbian segar pada setiap pekan kalangan buka.

Sekian bulan berikutnya, petani tua pemilik ladang mendapati beberapa lubang tikus di lahan ladangnya. Tapi ia biarkan saja. Ia tidak memburu tikus-tikus itu. Entah kenapa. Barangkali karena laki-laki lanjut usia itu merasa bahwa tikus-tikus pun berhak mendapat makanan di ladangnya. Tikus-tikus tak cuma memakani umbut dan akar umbi-umbian yang tumbuh di sana. Tapi juga cacing, si makhluk pengolah tanah.

Pada sebuah malam, pemilik ladang itu bermimpi. Beberapa tikus mendatanginya. Salah satunya seukuran kucing. Di dalam mimpinya, pak tua itu takjub karena tikus besar dapat bercakap-cakap menggunakan bahasa manusia.

”Kami ingin tinggal di sini,” kata si tikus.

“Aku tidak pernah melarang kalian, bukan?” sahut pak tua. Sebelum tikus dihadapannya menjawab, pemilik ladang itu menyusulkan, ”Tentu, selama jumlah kalian tidak terlalu banyak.”

”Kami akan datang lebih banyak lagi. Barangkali lipat sepuluh dari jumlah kami yang sudah ada di sini.”

Petani tua itu terdiam sebentar. Ia belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan penolakan. Sebenarnya ia tidak terlalu keberatan. Tapi ia memikirkan apa yang akan terjadi pada para mahluk melata yang selama ini menyuburkan tanah dengan pupuk ”tahi cacing”. Tikus-tikus akan memangsanya.

Seperti bisa membaca ke dalam pikiran lawan bicaranya, sang tikus segera menyambar, ”Kami juga bisa menyuburkan lahanmu. Kemampuan kami mengggali dan membalik tanah lebih baik ketimbang para cacing. Dengan demikian kami tidak merugikanmu sedikit pun. Ladangmu akan lebih subur dibanding saat ini.

Pemilik ladang hendak menukas. Tapi, angin yang bertiup keras menggoyangkan dangaunya, sehingga ia terjaga dari terlelap. Mimpinya terputus. Mimpi barusan sama sekali tidak ia ingat-ingat lagi.

Hingga petani tua itu menemukan sesuatu telah terjadi di atas lahannya. Tanpa ia sadari lubang tikus bertambah secara berangsur-angsur. Lubang-lubang itu berbaris teratur di sisi timur ladang. Tanah-tanah di sekitar lubang tikus telah terbalik selayaknya digaru. Muncullah niat pak tua untuk segera mengusir tikus agar menjauhi ladangnya, sebelum mereka terlanjur tidak bisa dikendalikan.

Ia bergegas menuju dangau, lalu menarik beberapa potong kayu bakar yang yang ujungnya membara. Sebentar lagi ia akan menyulut setumpuk ranting dan dedaunan kering di mulut liang-liang tikus. Agar, tikus yang bersembunyi di dalam tanah segera keluar akibat asap yang memedihkan mata mereka.

Ketika tumpukan pertama ia sulut, pak tua pemilik lahan teringat kembali pada mimpinya beberapa malam silam. Ia pikir, agaknya apa yang ditawarkan tikus besar di dalam mimpinya ada benarnya. Para tikus lebih piawai menggemburkan tanah. Jauh lebih baik ketimbang kerja para cacing membuat humus. Berarti kehadiran kawanan tikus ke ladangnya boleh jadi bakal membawa keuntungan. Dalam sekejap, tanah di dekat deretan lubang tikus tampak seperti digaru. Jika keseluruhan ladang dibuat begitu oleh tikus, maka petani tua itu tidak perlu bersusah payah menggemburkan lahannya. Petani tua itu perlahan menyingkirkan tumpukan daun dan ranting yang semula hendak dibakarnya.

”Biar aku tunggu sampai beberapa hari ke depan. Barulah kemudian bisa kuputuskan apa yang akan kulakukan,” Pak tua bicara sendiri.

Selang beberapa hari, tampak lubang tikus kian banyak saja. Berbaris rapi memenuhi seperlima bagian ladang. Di sana, tanah telah menggunduk seperti bedengan yang tercangkul. Tikus-tikus telah membaliknya dengan rapi. Hebatnya hasil kerja gerombolan tikus tidak merusak tanaman yang ditanam berjalur. Justru, bedengan karya tikus-tikus itu yang terlihat amat gembur manakala disiram hujan kian menyuburkan tetumbuhan isi ladang. Pak tua senang bukan kepalang, meski ia juga menemukan bahwa di sekitar bedengan tidak lagi ia jumpai ”tahi cacing”. Barulah orang tua itu memahami arti mimpinya beberapa waktu silam.

Peristiwa itu berlangsung perlahan namun terus-menerus. Sampai pada akhirnya, semua ladang telah terlubangi oleh kawanan tikus. Tidak ada satu pun cacing yang tersisa. Cacing-cacing telah habis dimangsa tikus-tikus. Barangkali masih ada yang tersisa, lalu mengungsi tergusur setelah ladang tempat mereka menghancurkan dedaun busuk dikuasai tikus.

Petani tua tetap melakukan kegiatannya sebagaimana biasanya. Sehari-hari ia menyiangi rerumput yang tidak diinginkan tumbuh di dekat pokok-pokok umbi-umbian, di sela-sela jalur semak nenas, atau mengerumuni tumbuhan sesayur. Sore hari menjelang hari kalangan, ia memetik sejumlah hasil ladang, memuatnya ke angkung untuk dijual selepas fajar menyingsing.

Namun, kegiatan itu akhirnya harus berakhir. Para tikus yang kelaparan setelah semua cacing mereka habisi, mau tak mau mulai menggerogoti umbi-umbi di dalam tanah, mengunyah pokok muda semak nanas, dan semua sesayur seisi ladang. Satu persatu tanaman layu, mengering, kemudian mati. Manakala petani tua mencabut tanaman keladi, talas, ketela pohon, dan ubi jalar, tidak satu pun ubi yang tersisa.

Kemarahan petani tua pemilik ladang naik ke ubun-ubun. Tapi, jumlah tikus yang sedemikian banyak membuat lelaki itu tidak berdaya. Ia pernah membunuh beberapa ekor tikus dengan parang. Bangkai tikus yang bersimbah darah tidak membuat kawanan tikus yang masih hidup gentar. Mereka malah mendekati bangkai kerabatnya, lalu berebutan mencabik-cabik daging saudara mereka. Seperti sedang mengalami kelaparan yang maha hebat.

Pemilik ladang itu juga pernah mengumpulkan kayu dan dedaunan kering memenuhi permukaan ladangnya. Kemudian menyulutnya dengan api, hingga tanah di atas lubang kawanan tikus terpanggang. Usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Para tikus bersembunyi jauh di dalam tanah yang tidak tersentuh oleh panas api.

Nenekku menutup dongeng tentang dongeng tikus dan cacing di ladang petani tua itu dengan akhir kisah yang berbeda setiap kali ia tuturkan. Akhirnya petani tua itu mati karena batinnya tertekan, atau akhirnya pemilik ladang mati kelaparan, atau akhirnya lelaki itu mati dengan jasad terbujur kaku di tengah kerumunan tikus yang mulai mengerat dagingnya.

Nenekku telah meninggal sejak sekitar lima belas tahun lalu. Namun hingga sekarang aku masih penasaran pada apa yang terpikir oleh petani tua sebelum ajal menjemputnya. Apakah ia menyesal karena telah ditipu mentah-mentah oleh tikus? Tidakkah ia menyesal karena tidak menghormati para cacing yang pernah bekerjasama dengannya ketika mengelola ladang? Ia pikirkan jugakah bahwa lantaran keuntungan besar yang ia hasratkan ternyata menggiringnya menuju kesusahan? Sayang, bagian itu tidak pernah dikisahkan nenek.

Dongeng nenekku juga tidak menyebutkan nama desa yang hanya berjarak satu pal dari ladang pak tua. Hanya disebutkan di tepian Sungai kelekar. Saat ini aku juga tinggal di perkampungan di tepi Sungai Kelekar, tapi agak jauh dari jantung kota Prabumulih — nama tempat yang juga disebutkan nenek dalam dongengnya.

Kadang-kadang, sembari mengenang dongeng nenek, pergilah aku berjalan-jalan ke keramaian di jantung kota kecil penghasil minyak dan nanas itu. Tidak ada hal khusus yang kulakukan di sana, kecuali berjalan menyusuri lorong gelap pasar tradisional yang kini dinamai pasar inpres. Pasar ini selalu ramai setiap hari, tidak seperti kalangan dalam dongeng nenek. Pedagang di pasar rakyat itu kembali mengingatkanku pada dongeng tersebut. Ibarat cacing, mereka bekerja lamban namun turut memastikan berdenyutnya kehidupan di kota kecil kami. Lalu, apakah mereka juga akan musnah dimangsa tikus?

Keterangan:
* Angkung : gerobak
** Andai-andai : dongeng
*** Pal : ukuran jarak. 1 pal kurang lebih setara dengan 1,5 kilometer.
**** Sekat : ukuran luas yang dipakai masyarakat tradisional Prabumulih (Rambang) di Sumatra Selatan. Kurang lebih setara dengan 400 meter persegi.
***** Ume himbe : sebutan untuk huma yang baru dibuka.
****** Punggas : sebutan untuk huma yang telah memasuki usia tahun kedua dan ketiga.

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s