“B”

Originally Created by Yissa Luthana

“Argggghhhhhhhhhhh…….”
Teriak Azzam di antara suster yang berusaha mengikatnya dengan mantel khusus bagi pasien yang histeris.

Tep,
Lampu senter menyala. Mata Azzam terbelalak mengengok ke cahaya.

“Bencong. Gendut. Jelek. Miskin.”
“Hahahahahahahaha”

Azzam melihat dirinya dalam diri seorang Anak lelaki 12 tahun yang terus tertawa mengolok bocah lelaki-perempuan yang ia panggil “BENCONG” yang cuma memandang iba (ingin agar berhenti diolok) di depannya.

“Hahahahaha. Bencong. Gendut. Jelek. Miskin. Hahahaha. Aku tak mau jadi temanmu.”

“Dokter, dia kejang?”
Tep.
Suntikan obat penenang diinjeksikan ke lengan Azzam.
Pria itupun langsung tertidur dengan sebelumnya ia kembali berteriak……..
“Arggghhhhhhhhhhhhhh.”

* * *

Ini adalah cerita seorang pria bernama Azzam, dengan seseorang yang ia panggil “B”.

Di usia lima tahun, di suatu pagi, Azzam kecil yang baru mendapatkan mainan ketapel dari sang kakek, membidikkan biji buah salak di ketapelnya ke seorang ibu hamil tua yang berjalan tepat di depan pekarangan rumahnya. Ibu hamil itu bernama Sri Sukesih, seorang janda yang mendiami gubuk sewaan di depan rumah Azzam. Mungkin karena masih bocah, Azzam tak tahu bahaya apa yang ia lakukan saat biji buah salak itu terbidik keras dari ketapelnya tepat ke perut tetangganya yang hamil tua itu. Namun yang pasti, semenit usai kejadian “ketapel nyasar” dari bocah nakal “Azzam”, Sri Sukesih langsung dilarikan tetangga lainnya ke puskesmas terdekat karena kontraksi dan langsung akan melahirkan.

Tujuh tahun kemudian, Azzam yang sudah berusia dua belas tahun, selalu terganggu oleh seorang bocah lelaki-perempuan, anak dari tetangganya yang tinggal tepat di rumah depan rumahnya itu. Kenapa ia sangat terganggu bahkan sangat risih? Karena bocah lelaki-perempuan itu memiliki alat kelamin ganda, dan Azzam sangat malu apabila harus berteman dengan “BENCONG”, begitu dia memanggilnya.

“Hei, kenapa kau terus mengikutiku?”
Bocah lelaki-perempuan yang bernama, Akila itu hanya diam memandang Azzam. Wajahnya dekil, bajunya lusuh, dan rambutnya merah. Bocah itu betul-betul dari kalangan tak berada. Berbeda dengan Azzam, yang tampak bersih, tampan, dan pakaiannya terlihat mahal.

“Hei, apa kau tuli?”Azzam melempari Akila dengan biji buah salak. Dan kena kepala Akila. Bocah itu pun meraung kesakitan. Namun dia tetap memandang Azzam, tak mau pulang.
“Kenapa kau tak juga pulang. Kau itu bencong. Gendut. Jelek. Miskin. Aku malu punya teman kaya’ kamu. Pulanglah!”
Akila masih berdiri di depan Azam.

>>>>

Mau hujan, Azam menaiki sepedanya dan mengayuhnya menuju bukit di belakang rumahnya. Akila berlari mengejar di belakangnya.

Di atas bukit itu, terdapat paviliun sekolah. Disanalah Azzam bersekolah. Sekolah khusus anak lelaki di desanya.

Hujan turun. Dan Azam sudah sampai di depan pintu masuk paviliun sekolahnya.

“Kenapa kau masih mengikutiku?”Azzam menengok Akila yang berdiri di depannya, kehujanan.
“Katanya… ka…ta.. nya … kau mau mengajariku menulis!”Akila menggigil kedinginan.
“Saat itu aku cuma bohong. Sudahlah. Pergi! Pulang! Aku sudah terlambat!”
“Tapi berikan buku tulis yang kau janjikan kemarin padaku!”
“Buku tulis?”
“Ya.”
Azzam tertawa. Ia berjalan menuju paviliun sebelah kanan sekolahnya. Di sana sumur tua tak terpakai. Anak-anak di sekolah itu menyebutnya “Sumur PKI” karena mirip sumur di “dongeng G-30-S-PKI”.
“Jadi kau ingin buku tulis?”Azzam mengeluarkan buku tulis miliknya dari dalam tas, menunjukkannya ke Akila.
“Ya.”Akila terus menggigil kedinginan, berdiri di samping “Sumur PKI” itu.
“Ya sudah. Nih ambil!”Azzam melempar buku tulis itu ke sumur.
Tak terdengar suara byurrrgh saat buku itu masuk ke dalam sumur, karena sumurnya sangat dalam.
“Hahahahahaha. Makan tuh sumur.”Teriak Azzam kegirangan, berlari meninggalkan Akila. Bocah lelaki itu segera masuk ke dalam kelasnya. Sementara Akila menangis kecewa menengok ke bawah sumur, menyesali nasib buku tulis yang jatuh di bawah sana.

Malam harinya.
Akila yang sedang belajar menulis huruf A, B, C, D, E di atas kertas sobekan bungkus rokok (karena cuma huruf A-E saja yang baru diajari Azzam, itupun karena terpaksa. Dan kenapa dia menulis di kertas sobekan bungkus rokok karena dia tak memiliki buku tulis) dipanggil ibunya yang sedang sibuk menanak nasi dan menyusui adik ke-empatnya.
“Akila, jaga adik-adikmu. Dan kupas bawang-bawang itu.”
Akila segera bangun dari belajarnya. “Ya, Bu!”. Ia segera ke ruang tamu menghampiri dua adik kembarnya yang berusia lima tahun untuk menina-bobokkannya, sembari mengupas sekeranjang bawang putih. Tidak ada televisi. Tidak ada radio. Sunyi. Dan belum ada makan malam.

Lalu,,

Tok Tok Tok

Terdengar suara orang berlari menjauh

Akila membuka pintu rumahnya. Ia tak menemukan siapa-siapa.

Akila pun keluar. Ia mencoba menengok ke sekeliling, tetap tak menemukan siapa-siapa. Sampai biji buah salak membentur keras di kepalanya.
“Auhhhhhhhhhhhh.”Ia melihat Azzam berdiri di seberang jalan sana, menunjukkan buku tulis.
“Hei B, apa kau masih ingin buku ini?”
Akila hanya diam.
“Ayo kesini!”
Akila diam, lalu berbalik dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
Ganti Azzam yang melongoh heran.
“Kenapa dia malah masuk ke rumahnya?”
Dari balik pintu, Akila mengintip Azzam di luar sana. Sorot matanya “menyerah”.

Petir menyambar, guntur menggelegar, lalu hujan kembali turun dengan derasnya.

“Raden,,,,, Raden kenapa malam-malam di luar! Ayo masuk!”Pak Karja, pelayan tua di keluarga Azzam segera mengajak masuk anak majikannya ke dalam rumah.

Saat dibawa kembali ke rumahnya, Azzam terus menengok ke balakang, memandang Akila, begitu juga Akila dari dalam rumahnya. Dan pandangan di malam itu adalah pandangan terakhir mereka, karena keesokan harinya tiba-tiba Azzam diboyong ibunya ke Jakarta lantaran sang ayah yang meninggal dunia. Wasiat ayah Azzam mengharuskan dia tinggal di Jakarta bersama kakak-kakak lelakinya (kakak dari lain ibu).

* * *

JAKARTA

DOOOORRRRRRR!!!!!!!
suara tembakan.
“Heh,,eh….heh….”

Mata Azzam terbuka.

“Sayang, kau kenapa?”Tanya Diana, isteri Azzam, yang duduk di depan meja riasnya sembari terus menyisir rambut panjangnya yang tergerai.
Azzam menatap Diana denga mata terbelalak, mukanya memerah dan berkeringat.
“Tidak. Cuma mimpi buruk. Sangat buruk.”Jawab Azzam terengah-engah.
Diana kembali menatap heran suaminya, “Ini yang kelimanya kau berkata seperti itu.”
Azzam mengabaikan isterinya, ia mengambil segelasi air putih di meja sisi ranjangnya.
“Apa kau bermimpi itu lagi?”
“Hmmm….”
“Sayang, ini sungguh tidak beres…”
“Ahhh… sejak kapan kau percaya tahayul? Sudahlah. Gara-gara setiap hari aku menonton film action, pikiranku terus dipenuhi suara tembakan dan tembakan.”Azzam bangun dari tempat tidurnya, bergerak menuju kamar mandi.
Terdengar suara air keran.
“Ngomong-omong, apa kau jadi ke pestanya Amanda?”Teriak Azzam dari kamar mandi.
“Ya. Bukankah kita sudah membicarakannya lima hari yang lalu?”Diana tampak kesal.
“Oke. Pergilah! Kau bebas tujuh hari. Jadilah dirimu sendiri selama tujuh hari!”Sindir Azzam saat kembali ke kamar tidur.
“Apa kau menyindirku?”Diana menatap Azzam dengan alis terangkat.
“Aku tak mau bertengkar. Ini masih shubuh.”Azzam memberikan kemejanya ke tangan Diana agar sang istri menyetrikankannya.
“Kau sangat menyebalkan.”
“Itu masalahmu karena mau menikah denganku.”
“Owhh…..”Diana melongoh tak percaya suaminya bisa berkata seperti itu. “Jadi………Jadi…..kau ….”
Diana tak merampungkan omongannya, karena tiba-tiba ia berlari ke kamar mandi. Terdengar wanita muda itu muntah-muntah di sana seperti wanita yang hamil muda. Dan ini yang keempat kalinya dalam sepekan terakhir.

Seorang diri, Azzam duduk di atas kasur tempat tidurnya. Wajahnya tertunduk dengan kedua tangan menopangnya.
“Ya Allah, semoga dia tahu apa yang telah dilakukannya. Dan semoga aku tahu siapa yang telah melakukannya bersamanya.”

* * *

Usai mengantarkan isterinya, Diana, ke rumah teman sang isteri yang menjadi penyelenggara pesta, Azzam pergi ke tempat bekas bengkel sekaligus show room mobilnya. Dari seberang jalan, pria yang baru saja bangkrut itu duduk selonjoran di aspal, memandang jauh tempat yang dulu dimilikinya dari harta warisan sang ayah yang ternyata uang dari korupsi. Sekarang tempat itu di pagar bagian depannya disegel dengan papan bertuliskan “BANGUNAN INI DISITA OLEH NEGARA DAN MENJADI HAK MILIK NEGARA”
“Lucu. Hidup ini sangat lucu.”jawabnya sembari merokok. Orang yang berlalu-lalang di sekitarnya menganggapnya orang stress dan pria itu tak menggbrisnya.
KRINGGGGGGGGG
Ponsel Azzam berdering.
“Halo….Sayang, jaga dirimu baik-baik yah? Cuma seminggu saja. Kau pasti bisa hidup tanpaku selama seminggu saja. Aku selalu menyayangimu.”
TUT TUT TUT
Azam mendadak mematikan ponselnya.
Ia kembali ke mobil sedannya. Lalu mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.

Di perjalanan kebut-kebutannya, suara-suara asing dalam ingatannya terus bersuara.
“Pak Azzam, menurut hasil pemeriksaan, anda mandul ……”
Suara Diana muntah-muntah.
“Maafkan ayahmu ini, Nak. Harta yang kalian miliki adalah harta dari ayah korupsi”
“Keluarga anda harus membayar denda kepada negara dan harus mengembalikan harta negara secepatnya!”
“Azzam, apa kau bangkrut?”
“Dia anak koruptor.”
“Azzam, isterimu selingkuh.”
“Azzam, kau adalah pecundang.”

“ARGGGHHHHHHHHHH …………………ANJINGGGGGGGGGGGG”

Citttttttttttttttttttttttttttt
BRRRRRKKKKKKGGGHHHHH
Azzam menabrak pohon kelapa di pinggir jalan raya, keluar dari area ibukota.

Mata Azzam tertutup sebentar, wajahnya jatuh ke kemudi mobil.
Saat matanya kembali terbuka, ia melihat seorang anak lelaki berdiri memandanginya di depan mobilnya sembari memakan buah salak.

Lalu,

Prrrgggggggggggggg

Bocah lelaki itu melemparkan biji buah salak ke kaca depan mobil Azzam.
“Euuhhhh,,, sial.”
Mata Azzam tertutup.
Matanya terbuka. Tertutup lagi. Terbuka lagi. Lalu,
“Akila?”

* * *

PUSAT PROSTITUSI KOLA-KOLA, DELTA

Akila bersama teman-temannya yang tergabung di keroncong lesehan RASASTI di pusat prostitusi Kola-Kola, Delta, malam ini membawakan lagu KASIH yang pernah dipopulerkan oleh Hetty Koesendang, untuk menghibur mereka yang lagi sibuk di warung makan lesehan.

Kasih

Malam ini kasih….
Teringat aku padamu ….
Seakan kau hadir di sisi menemaniku…
Kuyakinkan diri ini agar tiada sepi…
Kulewatkan hari di dalam mimpiku….

Seandainya mungkin….
Ku mampu terbang ke awan…
Detik ini juga ku akan melayang ke sana…
Kan kubawa pulang dirimu …
Yang selalu kusayang ….
Bersama berdua kita bahagia…..

Kasih dengarlah aku berkata…
Aku cinta kepada dirimu sayang
Kasih percayalah kepada diriku…
Hidup matiku hanya untukmu….

* * *

Setelah konser pinggirannya, Akila berbagi “recehan” bersama kelompok orkesnya. Setelah itu ia berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam.

Namun sebelum meninggalkan Kola-Kola, Fahmi, teman Akila meledek Gadis (karena saat dewasa, 22 tahun, Akila lebih memilih untuk menjadi seorang wanita, meski alat kelaminnya masih ganda. Dan hasilnya, Alika tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik).

“Sudah berapa tabunganmu?”
Alika yang mengenakan mantel untuk menutupi kostum panggungnya yang berbelahan dada rendah itu hanya tersenyum menjawab, “Tahun depan pasti bisa.”
“Baiklah. Aku akan menikahimu tahun depan karena tahun depan kau benar-benar jadi wanita.”
“Oke.”Sahut Akila dengan bercanda pula.

* * *

Pulang, Akila mengenakan rok mini sepaha dengan stoking hitam. Mantel tebal yang dikeakannya membuat bagian atas tubuhnya tertutup rapat. Itu kenapa, pria yang sedang asyik menikmati wedang kopi-jahe di kedai milik Mama Laras itu tak berkedip, cuma bisa mengamati kaki jenjang nan indah Akila, saat Akila mampir ke kedai itu untuk membeli buku tulis.

“Mama,,, buku tulis 58 halamannya dua!”Ucap Akila, sembari sesekali risih, menengok pria berkemaja hitam yang duduk di belakangnya.
Sekilas, wajah pria itu tampak tak asing. Tapi masih asing juga.
“Cuma ini saja, Ndok?”
“Ya, Ma. Terimakasi.”
Akila pun meninggalkan kedai Mama Laras.
Saat keluar, ia berpapasan dengan pria tak sopan itu, yang saat itu tengah berdiri untuk membayar wedang yang baru diminumnya.

>>>

Akila dan pria yang tak sopan, yang ternyata adalah Azzam, saling berhadapan dan beradu mata.
Dalam pikiran mereka, sama-sama, “Sepertinya dia tak asing bagiku. Tapi… siapa?”

Akila lalu mengangkat dua buku tulis yang baru dibelinya, untuk menutupi wajahnya, sembari berucap, “Permisi!”

“Ya.”Sahut Azzam

* * *

Perjalanan pulang, berjalan kaki, Akila terus-terusan memikirkan siapa pria yang tampak tak asing yang ia temui di kedai Mama Laras.

Tepat di jalan setapak, di atas bukit, di depan paviliun sekolah Azzam saat masih anak-anak dulu, tiba-tiba ada kaleng dilempar dan kena bagian belakang kepala Akila.

“Hoook…..”Eluh Akila.
Lalu tangan asing mendekap tubuh Akila dari belakang, dan juga membungkam mulutnya.
Akila memberontak, dan berhasil lepas dari dekapan pria asing itu.
Ia lalu membalikkan badan, menghadapnya.
“Kau?”Akila sangat terkejut.
“Kau?”Sahut Azzam.
“Ternyata kau?”
“Apa benar ini kau?”

* * *

BERSAMBUNG….

(SAMbUNGANNYA)

Taman belakang Rumah Sakit Jiwa DELTA
Sore

Sore itu, bunga-bunga pinus yang berwarna putih berguguran bersama kelopak-kelopak bunga flamboyan. Diam, Azzam duduk di atas bangku kayu tepat di bawah pohon pinus dan flamboyan itu seorang diri.Ia memakai seragam pasien berwarna putih. Tatapannya kosong. Gaya duduknya kaku. Meski raganya hidup, pria itu seperti kehilangan jiwa. Sampai sesosok wanita berbaju putih menghampirinya (di alam imajinasinya).

“B?”Ucap Azzam lirih, menoleh wanita itu.
Wanita bernama “B” yang ternyata Akila, tersenyum memandang Azzam.
TEPPP (Flashback ke masa lalu)
“Doooorrrrrrrrrrrr”Suara tembakan.
TEPPP (Flashback ke masa sekarang)
Azzam kembali histeris dan ketakutan.
TEPPP (Flashback ke masa lalu)
“Byurrrrrrrrrrhh”Suara sesuatu yang dijatuhkan ke dalam sumur tua yang sangat gelap. Azzam melihat dirinya berdiri di tepian atas sumur, dengan tangan memegang pistol dan berlumuran darah.
TEPPP (Flashback ke masa sekarang lagi)
Azzam tampak lebih gelisah dari sebelumnya. Histeria pria itu akan kambuh.
“Tidak. Tidak.”Azzam merundukkan muka ketakutan, tak mau menatap Akila.
Lalu, dengan halus, jemari tangan Akila meraba wajah Azzam, mengangkat wajah pria itu.
“Sssstttt…. apa yang kau takutkan?”
Azzam memandang Akila, wajahnya sangat pucat, “Ka….Ka..uuuu.”
“Aku?”
Azam mengangguk, dan Akila tersenyum.
“Aku kesini membawakanmu buah jeruk. Dan buku tulis.”
>>>
Akila lalu mengupaskan buah jeruk itu dan menyuapkannya ke mulut Azzam. Saat mengunyah buah jeruk yang terasa sangat manis itu, Azzam disuruh Akila untuk menulis. Dan Pria itu cuma bisa menulis huruf B.

* * *

Baru keluar dari rumah tahanan di kepolisian Delta, untuk menjenguk dua adiknya yang dipenjara karena kasus narkoba, Akila bersama Hana, adik bungsunya yang menderita autis, berjalan kaki melalui pasar buah. Di barisan stand terakhir pasar, tengah dipamerkan jeruk-jeruk lokal hasil panen raya perkebunan rakyat Delta.
“Kak, jeruk!”Pinta Hana.
Sebentar, Akila menghitung lembar demi lembar uang seribuan miliknya yang lusuh.
“Beli dua saja yah?”
Tanpa berpikir panjang, Hana langsung berlari ke penjual buah jeruk di dekatnya. Dan ia lalu sibuk memilih dua buah jeruk terbaiknya.

Tiba-tiba,

“Mau kupilihkan?”tanya Azzam yang berdiri di sebelah Hana.
“Hmmm?”Hana ketakutan karena tak mengenalnya.
Azzam lalu membungkuk, tersenyum menatap Hana. “Jika kau mau kupilihkan, akan kubelikan sekantong besar jeruk-jeruk itu untukmu?”
Hana lalu tersenyum lebar. Giginya yang ompong, lucu, membuat Azzam tertawa.

>>>>

Hana berlari menghampiri Akila, dengan membawa sekantong jeruk.
“Kak, jeruk! Jeruk!”
Akila hanya diam. Kesal. Menatap Azzam yang berdiri di depannya.
“Kau berubah. 180 derajat. Aku bahkan sudah tak mengenalimu.”Azzam tertawa, entah meledek ataukah tawa heran.
“Lima belas tahun. Sudah lima belas tahun.”Sorot mata Akila kaku, seperti seseorang yang menyimpan dendam.
“Kakak?”Panggil Akila.
“Jangan panggil dia kakak! Panggil dia, B….”Azzam membujuk Hana.
“B?”
“Yah. B.”
Akila tersenyum geli. Ia lalu melirik jeruk-jeruk yang dibawa Hana.
“Terimakasih atas jeruk-jeruknya. Kau orang pertama selain aku yang pernah memberikan sesuatu ke dia.”
Azzam diam sebentar. Berpikir. “Benarkah?”
“Ya. Mungkin itu yang membuatku maklum. Memaklumi kalau jeruk yang kau pilih pasti rasanya asam semua.”
Azam mengerutkan kening, bingung, “Apa yang kau maksud?”
“Buuuuhhhhhh”Hana melepehkan jeruk yang baru dimakannya, karena sangat asam
“Hana, kau tidak sopan!”Akila menarik adiknya.
“Bagaimana kau bisa tahu itu semua?”Azzam tertawa, tak percaya Akila bisa menduga rasa jeruk yang ia pilih untuk Hana.
“Karena kau suka pada jeruk yang berkulit menarik.”Akila mengeluarkan uang, membeli sebutir jeruk yang kulitnya berbintik-bintik, warnanya tak merata, dan terlihat hampir busuk.
“Dan kau?”Tanya Azzam minta pendapat Akila.
“Aku pernah mencoba jeruk-jeruk yang seperti ini, dan kau pasti tak pernah.”
Azzam kembali tertawa, “Kau sungguh sok tahu.”
“Cobalah!”
“Hmmm?”
“Ambilah! Makanlah! Cobalah!”Akila mengupaskan jeruk (jeruk yang dibelinya, dengan kulit sangat tak menarik) itu dan memberikannya ke Azzam.
Azzam memakannya.
“Bagaimana?”Tanya Akila berjalan melalui Azzam. Lalu ia dan Hana berhenti, menunggu Azzam yang berdiri membelakanginya memberikan pendapatnya.
“Aku kalah.”Jawan Azzam tertawa terkekeh menghabiskan jeruk yang diberikan Akila.
“Dulu kau mengajariku menulis abjad A-E, sekarang giliranku mengajarimu sesuatu………”
“Kalau jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya saja.”Sela Azzam.
“Hmmm. Kau baru saja membuktikannya.”
“Sial. Bagaimana bisa kau semakin pintar?”Azzam membalikkan badan.
“Dalam lima belas tahun, tanaman paku liar di sumur tua dekat bekas sekolahmu dulu kini menjadi pohon beringin besar. Apa aku tak boleh seperti mereka?”Jawab Akila, lalu mengajak Hana pergi.
“Hahahahaha.”Azzam benar-benar tak menduga si B yang dulu sering dihina dan diusirnya kini mengajarinya.
“Oh ya, terimakasih atas jeruk-jeruknya! Minuman jeruk hangat di musim penghujan seperti sekarang sangatlah enak….”
“B”Panggil Azam, meledek dari kejauhan.
“Jangan memanggilku B! Aku akan makin membencimu”sahut Akila dengan berteriak dari kejauhan, ia menggandeng Hana untuk menyeberangi palangan pintu rel kereta.
“Hahahaha.”Azzam tertawa.
“Bagaimana bisa dia berubah seperti itu?”Pria itu membalikkan badan, wajahnya yang sebelumnya gundah-gulana kini berubah merona-berbinar seperti pria yang baru saja menemukan cinta pandangan pertamanya.

Dan,
Lalu,

Tragedi terjadi….

Di seberang palangan pintu rel kereta api terdengar teriakan,

“Tidaaaakk….. Toloooonnnggg….. Hanaaa….!!!”

Sebuah mobil sedan yang melaju kencang, baru saja menyerempet keras Hana, hingga bocah penderita Autis itu terseret jauh (lepas dari genggaman Akila, kakaknya) lalu terjerembab ke trotoar jalan. Kepala bocah malang itu membentur keras batas trotoar. Dan kini, di pangkuan Akila, sang kakak yang terus menjerit meminta tolong, Hana yang kepalanya berlumuran darah tengah bertarung dengan maut.

Kaget mendengarnya, Azzam segera berlari menghampiri Akila.

Rumah Sakit Delta
19:00

Azzam berdiri di ujung koridor. Dari kejauhan, dia melihat Akila berdiri seperti patung di depan ruang gawat darurat, menanti kabar keadaan adiknya yang kini ditangani oleh tim dokter. Sementara itu, paman Akila tampak tengah berdiskusi dengan beberapa keluarga pria pengendara sedan yang menabrak Hana tadi sore. Bila Azzam bisa lebih dekat, mungkin dia akan bisa mendengar tema “Uang Kekeluargaan” di pembicaraan mereka.

Beberapa jam kemudian,

“Maaf, Nona! Adik anda tidak bisa tertolong.”

Hana meninggal dunia. Jenazah bocah itu dibawah keluar oleh perawat, di atas kereta dorong. Saat melintas di depan Akila, Akila memalingkan muka.

Ekspresi pertama yang ditunjukkan Akila di mata Azzam adalah diam. Diam seribu bahasa. Dia lalu mencari tempat duduk, dan duduk di sana. Sedangkan sang paman yang sudah mengantongi uang kekeluargaan, segera mengurus pemakaman Hana.

Dua jam setelah pemakaman Hana.

“Sejak semalam, kau diam.”Tanya Azzam, usai menarik tangan Akila yang hendak masuk ke dalam rumahnya.
Akila tetap tak bersuara.
“Apa ini gayamu untuk menunjukkan kalau kau kuat?”
Akila lalu membalikkan badannya, “Saat ini, aku hanya ingin kau pangil, B!”

>>>

Akila dan Azzam masuk ke dalam rumah atau gubuk tua Akila. Azzam disuruh Akila duduk di ruang tamu yang bergabung dengan ruang makan, sementara Akila menghampiri ibunya yang lumpuh, yang kini berbaring dengan merangkul segebok uang (lima juta rupiah) di tangannya. Wanita tua itu dari semalam terus-terusan membelalakkan matanya ke atas, menengok atap kamarnya, ataukah ada arwah Hana di atas sana yang sedang berpamitan pada ibunya.

>>>>

“Ibu, apa ibu mau diambilkan segelas air putih?”Akila membenarkan posisi tumpukan bantal ibunya.
Azzam yang duduk di ruang tamu, berhadapan dengan kamar ibu Akila, bisa dengan jelas melihat apa yang dilakukan Akila disana.
“Ibu! Sekarang ibu punya banyak uang. Apa Ibu bahagia?”Tanya Akila sembari membasuhi kedua telapak kaki ibunya yang terlihat kotor. Sesekali Akila melirik segebok uang (uang kekeluargaan dari pria yang menabrak Hana), yang dipeluk ibunya begitu erat, seolah takut diambil orang lain.
Melihat itu, Azzam hanya menahan nafas. Ia lalu mengamati apa yang ada di atas meja ruang tamu Akila.
Sekeranjang bawang kupasan, sekeranjang cabai hijau, dua buku yang sampulnya sama-sama bertuliskan BUKU MILIK HANA,, dan jilidan kertas reuse (kertas tak terpakai, yang halaman baliknya masih dipakai untuk ditulisi/digambari) yang bertuliskan INI BUKU KHUSUS MILIK AKILA ….
Azzam tersenyum.
Pria itu lalu mengambil jilidan buku milik Akila. Dibukanya tiap halaman. Kebanyakan berisi tulisan “belajar menulis” ..
“Hehhh…”Azzam masih melanjutkan melihat isi buku milik Akila. Banyak catatan-catatan lucu di sana. Terakhir yang bisa dibaca Azzam adalah puisi TENTANG SESEORANG (puisi di film Ada Apa Dengan Cinta). Azzam tak tahu kenapa Akila menulis puisi tersebut. Karena tak mau ambil pusing, pria itu berniat membuka lembar terakhir buku Akila. Namun, belum sempat dibuka, Akila terlihat akan keluar dari kamar ibunya. Sontak, Azzam segera meletakkan kembali buku Akila itu ke atas meja.

“Apa kau mau minum?”Tanya Akila, berdiri di antara ruang tamu dengan dapur.
“Tidak. Tak perlu.”jawab Azzam.
“Owh…”Akila lalu menyalakan televisinya (yang dibelinya dua tahun yang lalu dengan kredit)

Acara Berita Nasional:
PEMIRSA…. MERASA DIRUGIKAN ATAS STATEMEN LAWAN POLITIKNYA DI UPDATE STATUS FACEBOOK, SALAH SEORANG ANGGOTA DEWAN NEGERI INI MENUNTUT LAWAN POLITIKNYA ITU KE RANA HUKUM DENGAN MEMPERDATAKANNYA LIMA MILYAR RUPIAH ATAS PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK …….

Akila yang duduk di sebelah Azzam, langsung kembali mematikan televisinya.

Ada tape-recorder di bawah rak televisi. Dan Akila memutar puisi lagu kesukaannya, Tentang Seseorang, ost. Ada Apa Dengan Cinta. Puisi lagu itu lah yang menemaninya menemani Azzam sembari mengupas bawang.

“Hehhh… orang itu menuntut lima milyar rupiah karena namanya dijelek-jelekkan. Sementara ibuku baru saja menjual nyawa anaknya dengan lima juta rupiah. Apa kau tak ingin tertawa?”Akila tertawa sembari menengok Azzam.
Azzam diam.
“Kau tak ingin tertawa? Hmmm?”
Azzam masih diam. Lalu,
“Apa kau baik-baik saja?”Azzam menarik pergelangan tangan Akila.
Akila cuma menyahutinya dengan tawa, lalu dia mengikuti syair puisi lagu Tentang Seseorang yang sedang melantun indah di tape-recordernya.

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku,.
Ku lari ke pantai kemudian teriakku
Sepi..sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar..
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring labah-labah belang di tembok keraton putih
Kenapa tidak kau goyangkan saja locengnya biar terdera
Atau aku harus lari kehutan
Belok ke pantai..?

Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

*** ***

setelah itu, Akila menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Ia menangis, berteriak-teriak di sana.

Azzam adalah tipe pria yang sangat sulit menangis dan akan malu apabila ia menangis. Ia juga pria yang sangat tak tahan apabila melihat seseorang menangis di dekatnya.

Niat hati ingin merengkuh pundak Akila, tapi Azzam malu melakukannya.
Ia serba salah. Bingung. Tapi ia sudah sangat tak tahan mendengar teriakan, tangisan itu di dekatnya.
Dilihatnya sekeranjang cabai hijau di atas meja. Dan tanpa berpikir panjang, ia mengambil cabai itu dan dimakannya satu per satu.

>>>
Azzam tampak kepedasan. Sangat kepedasan. Hingga matanya keluar air mata. Namun ia terus melanjutkan memakan cabai-cabai itu.

Menyadarinya, Akila bangun dari tangisnya. Ia terkejut melihat Azzam melakukan hal konyol seperti itu. Saat Azzam akan mengambil cabai itu di atas meja, Akila segera mengambil keranjang cabainya lalu membuangnya jauh ke lantai.

“Kau gila? Apa yang kau lakukan itu sungguh gila?”Teriak Akila di depan Azzam.
Azzam yang kepedasan, menatap tajam Akila. Ia terengah-engah dengan mata sembab.
Dan tak menunggu lama,

Tepppp

Dari balik kabut yang menebal dan gerimis hujan, terlihat dari kejauhan, Azzam memeluk Akila dan mereka berciuman.

Prrrrrrrrrrgggggggggg

Petir menggelegar panjang.

Teppp

MATA AZZAM TERBUKA, malam ini dia berada di kamar pasien RSJ Delta.

“Apa kau menginginkan ini?”Tanya Diana, yang malam ini menjenguknya. Diana memberikan kotak kayu milik Azzam itu.
Azzam tak menjawab.
Diana membukakan kotak kayu itu. Ada secari kertas (surat) yang ditemukan polisi di genggaman Azzam saat pertama kali pria itu ditemukan.

Surat itu dibuka lalu ditunjukkan Diana kepada Azzam. Diana membacakannya untuk Azzam.

(Surat terakhir dari Akila untuk Azzam)

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

KEJUTAN

MUNGKIN JIKA DULU KAU BISAMENGAJARIKU MENULIS SEBELUM KAU PERGI, AKU AKAN MEMBERIKAN SURAT INI KEPADAMU SAAT ITU. DAN SEKARANG, KARENA AKU SUDAH MENEMUKANMU, AKU AKAN MEMBERIKANNYA PADAMU.

SEJAK PERTAMA KALI BISA MENULIS, SATU HAL YANG INGIN KU TULIS UNTUKMU ADALAH

“TERIMAKASIH”

TERIMAKASIH UNTUK HURUF B YANG SETIAP MALAM KAU AJARKAN PADAKU. HURUF B YANG SELALU KAU SEBUTKAN UNTUKKU. HURUF B ITU, DARIMU UNTUKKU, AKILA.

“Aduhhhhh”Akila kecil berteriak kesakitan, saat Azzam (12 tahun) yang duduk di atas tangga melemparinya dengan empat biji salak karena Akila terus-terusan tidak bisa menulis huruf B dengan benar.
“Kau jangan berteriak? Kalau kau berteriak, aku tak akan mengajarimu lagi.”
“Baiklah. Tapi kau juga jangan terus melempariku dengan biji salak. Sakit.”
“Itu karena kau bodoh. Sangat Bodoh.”
Akila kecil yang kumal tertawa, sembari menengok Azzam yang sok seperti guru di atas tangga.
“Apa huruf B itu artinya bodoh.”
“Kalau kau mau dipanggil bodoh, ya.”
“Oh….”
“B, apa kau mau aku beri buku tulis?”
“Mau…”
“Tapi kau harus mau aku panggil B.”
“B?”
“Ya. B, artinya bodoh, dan juga bisa B……..”

Hahahahahaha…..

BERSAMBUNG KE BAGIAN TIGA

Part III

Dari balik kabut jalanan yang menuruni bukit, terlihat sedan hitam Azzam semakin menjauhi Delta. Duduk di sebelahnya seorang gadis berambut panjang, yang terlihat seperti Akila.

Aku berdiri melambaikan tangan jauh di belakang mereka yang semakin menjauhiku.

>>>>>>

Sebelum pergi, Akila menitipkan ibunya ke dua adiknya yang baru bebas dari penjara dengan alasan sudah saatnya dia kini berbahagia dengan hidupnya sendiri bersama Azzam.

Ketika mengemudi, sesekali Azzam melirik Akila yang duduk, tertidur pulas di jok sebelah kirinya. Akila tidur dengan memangku tas pakaian yang terus dipegangnya erat. Melihat itu Azzam tersenyum. Dalam hatinya ia berkata, “Kau kembalikan lagi kepercayaanku pada kehidupan ini. Dan aku berharap, kau tidak akan pernah mengkhianatiku. Bila itu terjadi, aku tidak akan pernah mau percaya lagi kepada siapapun bahkan kepada Tuhan.”

BUKIT BELAKANG SEKOLAH
Malam Hari

(sehari setelah Azzam mencium Akila)

Intro : Apollonia… Ost. Godfather (Part 1)

Disana, Azzam dan Akila duduk saling berjauhan. Sama-sama menengok langit yang dipenuhi bintang.
Hembusan angin pegunungan malam itu, yang menebarkan kelopak-kelopak pinus dan salju pegunungan yang berjatuhan menyebar ke bukit, menemani acara curhat ala Akila kepada Azzam yang memintanya.

“Dulu,,,, aku ingin sekali bunuh diri. Mengakhiri hidupku agar Tuhan segera melahirkanku kembali ke dunia ini sebagai manusia yang tak berkelamin ganda. Sampai kutemukan jawabannya. Di usia lima belas tahun, tahun pertamaku memakai rok, ada seorang remaja mendekatiku. Dia sangat manis, jauh lebih manis darimu. Dia datang ke rumah membawa bunga. Bunga yang dia petik dari halaman depan rumahmu. Biarpun begitu, aku sangat menyukai bunga itu. Karena itu bunga pertama yang diberikan pria untukku. (Akila tersenyum meski matanya berkaca-kaca). Namun… Namun… Seorang temannya datang membisikkan padanya kalau gadis yang dia kencani malam itu berkelamin ganda. (Akila tertawa dan matanya mulai meneteskan air mata). Dia ketakutan melihatku. Dia lari. Aku mengejarnya sampai pintu depan rumahku. Bertanya-tanya, mengapa dia takut dan lari? Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu aku menunggunya. Tapi diak tak juga datang menemuiku. Aku menangis. Terus menangis. Hingga aku menemukan jawabannya ketika aku membuka pakaianku. Jawaban dari Tuhan itu kulihat nyata ada di diriku. Sejak saat itu, aku berhenti menangis.”

Salju pegunungan di dekat bukit mulai berjatuhan. Dan Azzam tak berkedip memandang Akila yang terus menengok ke atas, melihat langit yang terus diserbu salju yang berjatuhan, karena Akila takut untuk meneteskan air mata.

“Kau tanya perasaanku? Perasaaku seperti salju-salju ini. Saat aku mengerti jatuh cinta, adalah saat dimana aku memulai rasa iri/cemburuku kepada manusia-manusia yang tak ditakdirkan berkelamin ganda. (Akila menengok Azzam dengan tertawa meski matanya berkaca-kaca). Benar, aku selalu cemburu pada teman-temanku yang selalu pulang dijemput kekasih mereka. Ada seseorang yang mereka nantikan. Ada seseorang yang bisa membuat mereka menangis, bahagia, melamun, menunggu, dan ingin mati karena rindu. Aku juga ingin seperti mereka. Salju didiriku ingin dicairkan agar dinginnya tak semakin merusak jantungku.”

Azzam bergerak mendekati Akila, dan duduk semeter di sebelahnya.
“Apa tak pernah ada pria yang menyentuhmu sebelumnya?”
Akila menengok, dan menggelengkan kepala sembari tersenyum.”Selain kau, belum pernah ada.”
“Dua tahun yang lalu, ada seorang pria mendekatiku. Dia menyukaiku. Dia melamarku. Saat kuberi tahu aku berkelamin ganda, dia tidak mempersalahkannya. Aku tak memiliki ayah, dia tak mempersalahkannya. Adik-adikku di penjara, dia juga tak mempersalahkannya. Ibuku janda miskin yang lumpuh dan mantan pelacur. Dia cuma tersenyum mendengarnya.”
“Apa dia tampan?”
“Tidak lebih tampan darimu.”
“Apa dia menikahimu?”
“Dia lari di hari aku lari dari rumahku.”
Azzam diam.
Salju turun dan ditengadahi Azzam, lalu ia mengenggamnya. Semakin banyak salju yang jatuh semakin banyak salju yang ia genggam.
Diantara peraduan mata antara dirinya dengan Akila, Azzam mengeluar korek api dan tangan kanannya yang mengenggam salju ia letakkan tepat di atas korek api yang lalu dipantikkan apinya.
Api di korek api itu menyala tinggi membakar salju yang digenggam Azam.
Pria itu gila, karena api juga membakar sebagian kulit telapak tangan dan jari-jarinya.
Akila yang berkaca-kaca menatap Azzam hanya bisa diam, sesekali menggelengkan kepalanya.
Teppp (Flashback ke masa kanak-kanak Azzam-Akila)
“Jangan! Aku tak mau!”Teriak Akila saat Azzam menyeretnya ke bukit yang dipenuhi salju.
Disana ada kubangan air yang hampir membeku.
“Apa itu?”Tanya Akila yang terus menggigil kedinginan.
Tak menjawab, Azzam langsung mendorong Akila jatuh ke kubangan air yang hampir membeku itu.
“Argggghhhhhhhhh”
Azzam tertawa, dan terus melempari Akila dalam kubangan dengan salju-salju
“Sudah kubilang, bila bersama teman-temanku, kau jangan mengikutiku. Aku malu punya teman kaya’ kamu. Ini hukumannya.”Teriak Azzam (12 tahun) .
Tepppp (Flashback berhenti, kembali ke sekarang)
“Aku menginngat kejadian itu?”Akila bersuara.
Azzam yang terus membakar salju di genggamannya, tiba-tiba menarik wajah Akila ke pelukannya.
“Cukup. Kau jangan mengingat semua itu!”Azzam menyiksa tangannya dengan api… apakah dia menyesali apa yang dilakukannya di masa lalu?
Teppppp (Flashback ke masa lalu lagi)
Akila kecil yang terus menginggil kedinginan, melempari Azzam yang terus tertawa mengoloknya.
“Kenapa kau selalu jahat padaku? Aku cuma ingin menjadi temanmu.”
“Karena kau B”
“B?”
“Sekarang lepas pakaianmu!”
“Tidak.”
“Lepas! Atau aku yang melepaskannya!”Gertak Azzam dengan mengerikan.
“Baik… Baik.”
Akila kecil pun melepaskan pakaiannya di tengah salju yang terus menghujani tubuhnya.
Setelah bugil, Akila disuruh Azzam masuk kembali ke kubangan air.
“Kau harus tetap di sana, sampai aku kembali!”Perintah Azzam.
“Kau mau kemana?”Akila mulai ketakutan.
“Aku akan mengambilkanmu buku tulis. Bukankah kau ingin buku tulis.”
Azzam berlari pulang kerumah, meninggalkan Akila seorang diri di kubangan air tengah bukit bersalju itu.
Satu jam, Azzam tak datang. Akila mulai kedinginan teramat sangat. Dia mulai marah, marah, dan sangat marah kepada Azzam. Sejak saat itu, dia tak pernah mau lagi mengikuti Azzam. Sampai Azzam diboyong ke Jakarta.
Tepppp (Flashback berakhir)
Akila kedinginan di dekapan Azzam. Ia menggigil seperti saat berusia tujuh tahun dulu.
“Kau masih mengingatnya?”Teriak Azzam.
Akila ketakutan menatap Azzam.
“Jika aku bisa, aku ingin menggantikan penderitaanmu, tapi aku tak ingin kau menggantikan penderitaanku. Aku akan membawamu lari dari duniamu masuk ke duniaku. Jadilah milikku!”

* * *

Dengan jemari tangan yang terbalut perban karena terbakar, Azzam menggenggam jemari tangan Akila, ketika mobilnya tepat berhenti di depan rumah Azzam di Jakarta.

* * *

Sebelum berangkat ke Jakarta, Azzam sudah menceritakan kisah pernikahannya bersama Diana. Akila sama sekali tak memberikan komentar. Ia hanya tahu Azzam ingin menawarkan kebahagiaan untuknya, yang selama ini jarang ia dapatkan. Meski setelah itu ia akan mendapat sebutan “perusak rumah tangga orang”. Kesepian yang selama ini menyiksa Akila, dan prinsip “tak ada seorangpun selain dirimu sendiri yang akan selalu mempedulikanmu, jadi untuk apa lagi kau mempedulikan orang lain yang tak pernah mempedulikanmu?” di diri Akila lah yang membuatnya tak mempedulikan itu semua. Ia mengikuti apa saja yang menurutnya bisa membuatnya bahagia.

* * *

Azzam membuka pintu rumahnya bersama Akila, dan mereka mendapati Diana yang sedang duduk di ruang tamu. Wanita itu tengah menelepon seseorang. Temannya. Dan Azzam menduga Diana sedang menelepon kekasih gelapnya karena Diana sering melakukannya

>>>>

“Kau? Kau sudah pulang?Diana tampak girang, bangun dari sofa, menyambut suaminya. Ia mengenakan baju hamil.
Azzam diam. Akila yang berdiri di belakang Azzam, ditarik Azzam lalu didekapnya dari samping.
Sepasang mata Diana yang semula berbinar menatap Azzam, berubah sayu, terkejut, melihat ada seorang gadis cantik di samping suaminya.
Diam
“Apa maksudnya ini?”Diana tak berkedip menatap Akila, begitu juga Akila. Akila melihat wanita yang akan direbut suaminya itu sedang hamil muda.
Azzam melangkah mendekati Diana, “Semua ini akan berakhir.”
“Heh.”Diana mundur dua langkah, nafasnya terengah-engah.
“Kehidupan penuh kepalsuan dan pengkhianatan ini akan kuakhiri sekarang juga.”
“Kau tega.”Diana berteriak sembari menjatuhkan dirinya ke sofa. Melihat itu, Akila memalingkan mukanya. Ia tak tega melihat Diana, namun ia berusaha harus tega.
“Aku sudah lelah berdebat denganmu masalah ini.”
“Kau tega? Harus berapa kali aku meminta maaf agar kau bisa melupakan pengkhianatanku-pengkhianatanku di masa lalu? Harus berapa kali? Katakan!”
“Semua itu sudah terlambat.”Ucap Azzam sembari membuang vas bunga ke lantai, di depan Diana.
“Tapi tidak untuk anak ini.”
“Itu bukan anakku.”
“Ini anakmu.”
“Bukan. Kita berdua tahu kalau itu bukan anakku.”Azzam mendekati Diana dan menunjuk-nunjuk muka isterinya itu seperti sedang mengancam.
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”
“Tanyakan pertanyaan itu untuk selingkuhanmu!”
“Kau akan menyesal.”Diana histeris, ia menangis sembari mencecar Azzam dan mendorong suaminya.
“Aku bersumpah tidak akan pernah menyesal.”
“Kau sakit. Jiwamu sakit.”Diana berdiri berhadapan dengan suaminya.
“Kaulah yang membuatku sakit. Lima tahun kau memberiku kepalsuan. Kau mengkhianatiku, berkali kali.”
“Tapi ini benar-benar anakmu.”Diana meraba perutnya.
“Jika itu benar anakku, bunuh anak itu untukku!”Azzam membalikkan badan, membelakangi Diana.
Diana menangis sembari merunduk.
“Kau akan menyesal. Jika kau meninggalkanku adalah karmaku, karmamu adalah penyesalan yang akan terus mengejarmu.”Sumpah serapah Diana.
Mendengar itu Azzam, hanya tertawa, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Disana, ia mengepaki semua berkas-berkas pribadinya, dan memasukkannya ke dalam koper. Tanpa pakaian.

>>>

Azzam kembali ke ruang tamu. Di sana terlihat Diana berjalan mendekati Akila.

Prrrrrrrrrrrrggggggghhhh

Diana menampar dengan keras wajah Akila, sekali, dua kali, tiga kali, dan ….

SAVANA, 56 Km di Utara Delta

RUMAH SUSUN VILAMOSA, Rumah Kontrakan Baru Azzam

“Euhhhhhhhhh….. Heh…hehh….”Akila terbangun dari tidurnya.
Dia tak menemukan siapa-siapa. Kamarnya gelap.

“Azzam!:Panggil Akila saat bangkit dari tempat tidurnya.Ia menyalakan lampu. Ada segelas air putih di atas meja, dan langsung diminumnya.

Akila keluar dari kamarnya. Ruang tamu di depan kamarnya masih menyala, dan Azzam tampak sibuk dengan laptopnya, duduk membungkuk di kursi yang membelakangi Akila.

Rupanya, pria itu sedang mengetik beberapa surat lamaran pekerjaan. Malam itu ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjangnya. Mungkin karena kemejanya basah karena keringat ataukah bau, Akila tak tahu. Padahal hujan turun derasnya di luar sana, dan dia bisa saja masuk angin.

“Kenapa kau tak membawa juga pakaian-pakaianmu. Kau bisa ganti pakaian dengan itu!”Akila duduk di kursi depan Azzam, mereka cuma terpisah meja.
“Semua pakaianku di rumah itu bekas tubuhnya.”Jawab Azzam ketus.
Akila terdiam. Dan Azzam menengoknya, “Mulai saat ini, aku tak ingin sesuatu yang kumiliki disentuh orang lain. Bila sesuatu itu sudah tersentuh, aku akan membuangnya.”
“Termasuk aku?”Goda Akila sembari mengambil buku bacaannya dari tas pakaiannya yang tergeletak di dekatnya.
“Termasuk kau.”
Akila terdiam. Tubuhnya kaku dan gemetaran. Ia lalu menoleh ke Azzam.
“Apa yang akan kau lakukan jika tersentuh orang lain? Kau akan membuangku?”
“Aku akan membuangmu. Tapi sebelumnya aku akan membunuhmu.”
Tepppp.
Lampu di ruang tamu itu mendadak padam.
Lalu menyala lagi.
Azzam dan Akila saling berpandangan.
“Kau membuatku takut.”Akila tersenyum lebar, mencairkan suasana.
Ia lalu melihat sekantong buah salak yang dibeli Azzam saat perjalanan sore tadi ke tempat barunya.
Diambilnya satu buah. Dikupasnya. Lalu dimakannya.
Sembari makan, Akila yang tak punya kerjaan, mengamati Azzam yang sibuk dengan notebook-nya. Tak sengaja, Akila melihat tanda lahir (semacam tompel hitam) berbentuk kotak (persegi) cukup besar di antara leher dan juga dada Azzam.
“Apa kau menyadari kalau kau memiliki stempel di dada?”
“Ouhh.”Azzam menengok dadanya.”Ini tanda lahir yang diturunkan ayahku. Ketiga kakakku juga memiliki tanda seperti ini.”
“Kebesaran Tuhan.”
“Apa?”
“Kebesaran Tuhan.”
“Apa maksudmu?”
“Ayahmu menurunkan tanda lahir itu ke keempat anaknya. Pasti kau juga akan menurunkan tanda lahir itu ke anakmu nanti.”
Azzam terdiam. Akila tak tahu kalau Azzam mengira dirinya mandul.
“Ngomong-omong, sejak kecil kau sangat suka buah salak. Dan aku membencinya.”
“Lalu kenapa kau memakannya?”
“Agar kau tak mendapatkan bijinya.”
Azzam kembali terdiam. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.

>>>>>

Dari kejauhan, aku berdiri melihat keceriaan antara Azzam dan Akila di ruang tamu rumah baru mereka. Saat akan kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah susun mereka, Akila terlihat mendekat ke balkon luar rumahnya. Dia berdiri di dekat tiang penyangga rumah, dan mengamati jalanan depan rumahnya. Di situlah, kali pertama ia melihatku. Aku melambaikan tangan menyapanya. Dan dia mundur tiga langkah lalu bersandar ke tembok dekat pintu sembari berucap, “Tidak mungkin.” Dia terlihat sangat ketakutan. Aku hanya tersenyum melihatnya dari kejauhan, dan pergi.

“Aku melihat diriku sendiri.”Akila menutup matanya dan menghela nafas panjang.

* * *

5 BULAN KEMUDIAN, KOTA SAVANA

Azzam sudah bercerai dengan Diana. Azzam sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan kontraktor di Savana, dan Akila baru satu bulan bekerja di restoran cepat saji Foodism, Savana, sebagai koki.

Angin lembah dan pegunungan dari arah utara sore itu berhembus menyergap Savana. Udara begitu dingin di luar. Semua orang mengenakan mantel tebal.
Pekerjaan Akila dari pukul delapan pagi sampai jam lima sore, bergantian dengan rekannya yang bertugas malam.
Sore itu, seusai mengganti seragamnya dengan baju da mantel, seorang teman memanggil Akila.
“Akila, ada yang mencarimu.”
“Siapa?”Tanya Akila sembari mengikat rambut panjangnya.
“Seorang wanita. Dia menunggumu di luar sana.”
Dalam pikirannya, Akila bertanya-tanya siapa wanita itu.
Ia pun segera absensi pulang dan berpamitan untuk pulang pada rekan-rekannya.
Tiba di pintu luar khusus pegawai, Akila mencari dimanakah wanita yang menunggunya.
Akila berjalan ke arah dekat pintu masuk utama restoran. Di sana ada seorang wanita memakai mantel panjang berwarna hitam, mengenakan payung hitam, berdiri membelakanginya, menghadap jalan.
“Maaf….”Akila memanggil wanita itu.
Dan wanita itu pun membalikkan badannya, menurunkan payungnya.

DIANA

Diana tersenyum menyapa Akila. Akila membalasnya.

>>>>>

KAFE PINGGIR JALAN, ROADCAFE, SAVANA

Diana yang sedang hamil tua mengajak Akila berbincang-bincang di kafe pinggir jalan raya. Mereka duduk saling berhadapan.
Akila sama sekali tak mengerti apa maksud dari Diana menemuinya. Dan bagaimana bisa Diana bisa menemukannya.

“Bagaimana kabarmu?”Tanya Diana.
“Baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”Akila merasa kikuk.
“Apa dia juga begitu?”
“Ya.”
“Syukurlah.”Diana meraba perut besarnya.
“Kau pasti sebentar lagi akan melahirkan.”Akila tersenyum melihat perut buncit Diana.
“Ya. Sebulan lagi.”
“Aku tahu perasaanmu.”
“Sudahlah, aku sudah menerima itu semua. Lebih baik aku memakan pasir daripada mengingat masa laluku.”Diana tertawa lirih sembari meneguk kopi miliknya.
“Aku sendiri mulai menyadari kalau Azzam sangatlah kaku.”
“Apa dia pernah memukulmu?”
“Tidak. Tetapi dia mengikatku. Mengikatku begitu kuat. Terkadang aku tak bisa bernafas.”
Diana diam memandang Akila yang mulai gelisah, dengan merunduk ke bawah.
“Itulah sifatnya! Jika kau sudah menjadi miliknya, dia tak akan membiarkanmu disentuh orang lain. Dia akan mengikatmu sekuat tenaganya. Karena dia tak akan memakai lagi sesuatu yang dimilikinya bila sudah disentuh orang lain. Di saat seperti itu, dia akan gila. Dan bisa melakukan apa saja.”
“Terkadang dia membuatku takut.”
Diana tertawa. “Tapi dia suamimu.”
“Dia bukan suamiku. Kami belum menikah.”
Diana diam. Lalu, “Aku tahu masa lalumu. Jadi aku tahu kenapa kalian belum menikah.”
“Kau bahkan tahu segalanya tentangku.”Akila tersenyum, menyindir Diana.
Diana lalu mengambil tisu, dan membersihkan noda hitam di pipi Akila. “Lima bulan yang lalu, aku sangat membencimu, aku ingin tahu siapa dirimu. Tapi sekarang, aku ingin menjadi temanmu.”
Akila memegang jemari tangan Diana, “Apa kau ingin aku meminta maaf?”
“Sudah kukatakan. Lebih baik aku memakan pasir daripada mengingat masa laluku.”
Akila melepas tangan Diana.

>>>>>

“Nona, ini pesanan anda!”Seorang pelayan datang membawakan jus alpukat dan jus mangga pesanan Akila.
Di udara dingin seperti ini, Diana heran melihat Akila memesan minuman dingin seperti itu. Apalagi saat Akila memanggil pelayan itu lagi,
“Apa boleh aku meminta sepotong saja sisa mangga yang andai pakai untuk minuman ini?”Pinta Akila.
“Oh… boleh. Sebentar, akan saya ambilkan!”
Diana diam, seribu bahasa. Wajahnya pucat, saat pikirannya tengah menjadi tempat pertarungan antara pikiran rasional dengan dugaannya terhadap Akila.”Tidak. Tidak mungkin.”ucapnya dalam hati.
“Akila?”
“Hmmm….”Akila sedang asyik menikmati mangga muda yang baru didapatkannya.
“Apa kau merasa seratus persen seorang wanita?”
Akila langsung menjatuhkan sisa mangga yang ia pegang. Ia diam, menatap tajam Diana.
“Apa maksudmu?”
Diana tersadar dari kegilaannya, “Oh. Maaf. Maafkan aku.”
Akila tampak memikirkan sebenarnya apa yang dimaksud Diana. Tapi dia tak mau ambil pusing.
Akila bangun dari tempat duduknya. Ia berjalan mencari wastafel di dekatnya. Saat berjalan, Diana mengamati langkah Akila juga perut Akila. Ketakutannya semakin menjadi, saat apa yang pernah dialaminya ia temukan di diri Akila.
>>>

Ketika Akila kembali ke tempat duduknya, ia merasa ingin pingsan. Tapi beruntung ia bisa mengatasinya dan baik-baik saja.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Akhir-akhir ini, ini sering terjadi. Tak apa. Cuma anemia.”
“Apa kau yakin cuma anemia?”
Akila tertawa sembari mengangguk. Dia meminum habis jus alpokat dan mangga miliknya.
“Apa kau tak pernah berpikir….. untuk….. untuk.. (Diana terbata-bata) … untuk hamil sepertiku?”
Akila kembali memandang Diana dengan tersenyum, “Itu tidak mungkin. Kau tahu siapa aku, jadi kau tahu itu tidak mungkin.”
“Bagaimana jika itu mungkin? Setahuku, seseorang (Diana terbata-bata) berkelamin ganda, meski dia juga memiliki alat kelamin pria… tapi dia juga seorang perempuan. Apalagi aku tahu sejak kecil kau lebih menjadi seorang perempuan.”
Akila terdiam. Matanya tertutup, dan ingatannya dipenuhi wajah Azzam saat pria itu menyetubuhinya.
“Akila?”
“Akila?”
“Heh…heh…heh…”Akila begitu gelisah, wajahnya dipenuhi keringat. “Itu tidak mungkin. Tidak mungkin.”
“Akila? Kau baik-baik saja?”Diana menarik jemari tangan Akila dan mencengkramnya kuat.
Akila pun terdiam, tenang.
“Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.”

Teppppp….

>>>>>

Angin dingin kembali berhembus. Cuaca seperti musim gugur. Karena berangin, banyak kelopak-kelopak bunga pinus dan flamboyan dan dedaunan yang berguguran.

Sebuah BMW mewah klasik datang menjemput Diana.

Diana dan Akila berdiri bergandengan di tepi jalan. Diana berpamitan kepada Akila dengan memegangi payung hitamnya.
“Temanku menjemputku.”Ucap Diana.
Akila melirik pria yang mengemudikan mobil di depannya.
Kini, Diana dan Akila berdiri saling berhadapan. Mereka saling berpandangan dan saling memegang tangan.
“Akila?”
“Ya.”
“Terimakasih.”
“Untuk apa?”
“Engkau bukti hidup yang dikiriman atas doa-doaku selama ini. Engkau jawaban siapa ayah kandung bayiku.”
Akila diam. Bingung.
Diana lalu menggerakkan jemari tangan Akila ke perutnya. “Apa kau merasakannya?”
Perlahan, Akila merasakan jemarinya menyentuh bayi Diana bergerak-gerak di dalamnya. Akila pun tersenyum. Ini kali pertama ia memegang perut wanita hamil.
“Dia bergerak?”Tanya Diana.
“Ya.”
Diana lalu menggerakkan tangan Akila ke perut Akila sendiri.
Akila diam seperti patung.
Diana tersenyum sembari mencium pipi kanan Akila, kemudian ia pergi meninggalkan Akila seorang diri yang masih meraba perutnya sendiri.

Angin kencang menerpa Akila yang berdiri di tepian jalan. Rambut panjang gadis itu tergerai berkibar-kibar, seperti syal panjang yang melilit di lehernya.

>>>>

Kamar Azzam, Rumah Sakit Jiwa DELTA (FLASHBACK KE MASA SEKARANG)

Aku yang melihat Akila dari kejauhan, segera menutup gorden jendela yang digunakan Azzam untuk melihat masa lalunya itu karena ini sudah larut malam.

Pria itu naik ke tempat tidurnya. Berbaring, dan dia memintaku berbaring di sebelahnya.
Sampai ia tertidur, tangannya terus meraba perutku yang mengandung anaknya.
Kulihat seorang ayah sedang menina-bobokkan anak kandungnya, yang telah ia bunuh sebelum sempat dilahirkan ke dunia.

Intro : Bang Bang …. (Ost. Kill Bill)

PART IV

Apa yang dikatakan Diana padanya, membuat Akila selalu dikejar-kejar pertanyaan dari dirinya sendiri, “Mungkinkah dia hamil?”

SATU BULAN KEMUDIAN

Rumah Azzam-Akila.

Sore itu, saat Azzam tidak ada di rumah, Akila memasukkan Baskara, tetangganya, ke dalam rumahnya untuk membantunya memperbaiki keran wastafel dapurnya yang rusak. Hampir saja rumah itu kebanjiran karena air keran tak berhenti-hentinya keluar. Beruntung Akila memiliki tetangga seorang teknisi mekanik yang handal. Tak sampai setengah jam, keran wastafel dapur Akila sudah bisa diperbaiki.

Akila berjalan membawa secangkir kopi ke meja makan. Dan Baskara berjalan mengikutinya. Mereka lalu duduk saling berhadapan di meja makan. Akila memberikan secangkir kopi itu ke Baskara.

“Aku tak tahu jika kau tak membantuku.”Akila tampak lega.
“Malam ini kau beruntung. Terimakasih kopinya.”Baskara meminum kopinya.
“Biasanya yang mengerjakan itu, Azzam. Kekasihku. Apa kau pernah bertemu dengannya?”Akila sibuk mengemil (mengudap) belimbing muda, dan Baskara mengamatinya (pemuda itu merasa aneh, ia pun sampai menelan ludah, geli membayangkan betapa asamnya belimbing yang dimakan Akila).
“Ya. Kami pernah berpapasan beberapa kali di tangga. Sekarang dia ada di mana?”
“Dia keluar kota. Bos barunya mengajaknya mengikuti tender.”
“Pasti membosankan seorang diri di rumah.”
“Tidak juga. Aku ditemani dia”Akila menunjuk seekor burung kutilang berwarna hitam-kuning, peliharaan Azzam yang tersangkar, dan tergantung di atap balkon.
“Burung itu yang menemanimu?”Baskara tertawa, sembari bangun dari duduknya, mendekati balkon.
“Azzam memberikan nama, B, untuk dia. Hanya aku yang mengerti arti nama itu.”
“B?”Baskara mengerutkan kening.
“Ya. B. Seperti namaaaa…..”
TEP
Azzam membuka pintu. Pria itu sudah datang. Dia datang membawa koper dan juga buah tangan berbentuk kotak berkantong plastik.
“Oh Selamat malam.”Tegur Baskara.
Azzam diam. Memandang heran Baskara, lalu Akila yang sama-sama berdiri memandangnya.
“Kau sudah datang?”Akila tersenyum lebar, girang.
“Kenapa dia bisa ada di sini?”Azzam bertanya pada Akila.
“Ohh… (terbata-bata)… dia baru saja membantuku memperbaiki keran air wastafel dapur kita. Keran itu rusak. Rumah ini hampir dibuatnya banjir.”
Azzam lalu mengamati masih ada genangan air di dapur. Alasan Akila cukup masuk akal.
Pria itu kembali diam. Memandang Baskara. Merasa tahu kalau dia dicurigai yang macam-macam, dan daripada makin memperburuk keadaan, Baskara pun berpamitan pulang.
“Sepertinya… aku harus kembali ke rumahku. (memandang Akila). Senang bisa membantumu. (Memandang Azzam). Hari yang melelahkan.”
“Terimakasih bantuannya.”Akila berbasa-basi.
“Terimakasih juga kopinya.”Baskara menengok Akila, saat berdiri di dekat Azzam, hendak keluar pintu.
Sontak, Azzam langsung melihat cangkir kopi di atas meja makan, bekas Baskara.
“Selamat malam, Tuan!”Pamit Baskara pada Azzam.
“Selamat malam.”
>>>>>>>

Teppp.

Azzam mengambil gelas bekas Baskara, lalu membuangnya ke tong sampah. Melihat itu, Akila hanya diam tak percaya penyakit lama kekasihnya kambuh.

Azzam kembali ke meja makan.

Ia dan Akila duduk berhadapan di meja makan. Akila sibuk membuka isi kotak yang dibawa Azzam dari luar kota. Ternyata martabak dengan banyak acar dan cabai hijaunya.

Sementara itu, Azzam masih diam, memandang Akila dengan sorot mata kesal, cemburu, dan marah. Jemari tangannya mulai menggenggam.

Tanpa bicara, Azzam mengambil sepotong martabak di depan Akila, lalu melemparkannya ke wajah Akila.

“Euhhh.”Sontak, Akila heran menatap Azzam. Mata mereka saling beradu. Perang amarah melalui tatapan mata. Sepasang mata mereka lalu terbuka, lalu tertutup.

Teppp

Azzam kecil dan Akila kecil berada di kebun belakang rumah Azzam di Delta. Azzam di atas pohon mangga, sementara Akila berdiri di bawah menengok Azzam yang terus melemparinya dengan daun mangga. Di tangan kedua bocah itu, sama-sama memegang sepotong martabak pemberian Ibu Azzam. Bila Azzam hanya membawa sepotong martabak, Akila tak hanya membawa sepotong martabak. Gadis kecil itu juga membawakan sebungkus kecil acar dan cabai hijau miliknya, juga milik Azzam.

“B. Cepat kau makan martabak itu! Ibuku sudah berbaik hati memberikannya untukmu.”
Akila mengangguk.
Gadis kecil itu pun mendekatkan sepotong martabak ke mulutnya. Namun tiba-tiba, seekor lebah menyengat lehernya.
“Euhhhh.”Akila berlari mundur, dan tak sengaja membuang martabak di tangannya itu ke kubangan di dekatnya.
Melihat itu, Azzam kecil murka. Ia yang sudah melahap habis martabaknya, turun dari pohon mangga membawa sebuah mangga muda, lalu melemparkannya ke Akila.
“Kau bodoh. Ibuku sudah memberikan itu untukmu, tapi kau membuangnya!”
“Aku tak sengaja.”Akila kecil merengek.
“Kau memang bodoh.”
Akila menangis.
“Kau jangan menangis. Akan aku hukum jika kau menangis.”
Akila langsung diam.
Azzam tertawa, “Meski kau diam. Aku tetap menghukummu.”
Azzam melihat ada dua bungkus kecil acar dan cabai di genggam Akila.
“Buka bungkusan itu. Makan semua cabai-cabai itu.”
Akila melongo ketakutan. Ia takut kepedasan.
“Ayo, makan!”
Akila pun menurutinya. Ia memakan cabai-cabai hijau itu di depan Azzam. Air mata gadis kecil menetes berjatuhan. Deras. Meski tak bersuara.

Teppp (Flashback ke masa sekarang)

Azzam melihat Akila meneteskan air mata di depannya, setelah ia melemparkan martabak itu ke wajah Akila.
Tanpa bicara, Azzam mengambil cabai-cabai hijau di atas martabak di depan Akila.
Pria itu lalu memakannya sembari menatap tajam Akila yang terus menangis menatapnya.
Satu cabai termakan. Dua cabai, tiga cabai, empat cabai, lima cabai sampai lima belas cabai dimakan Azzam. Pria itu menahan rasa pedas yang luar biasa, juga menahan air mata yang ingin menetes dari kelopak matanya. Belum satupun tetes air keluar dari matanya.

Di cabai yang keenam belas, Akila menghentikan aksi gila Azzam itu. Ia menarik pergelangan tangan Azzam, “Kumohon, hentikan!”

Azzam lalu menyentuh pipi Akila.
Akila bangun dari duduknya. Ia melangkah ke dapur. Mengambil segelas madu dan susu. Lalu kembali ke Azzam
“Minum ini!”Pinta Akila kepada Azzam yang diam di depannya.
“Minum!”Pinta sekali lagi Akila.
“Minum.”Akila kesal. Ia meletakkan segelas susu-madu itu di depan Azzam dengan kasar, membanting gelas itu.
Prrrrgggghhhh
Azzam menengok Akila. Tanpa bersuara, ia merangkul Akila yang berdiri di depannya.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Akila melepaskan dirinya dari Azzam.
Ia berjalan ke balkon, mendekati sangkar burung kutilang milik Azzam. Diambilnya burung itu. Lalu dibawanya ke Azzam.
Azzam menengok Akila, heran.
“B.”Ucap Akila, sembari menggenggamkan burung kutilang itu ke tangan Azzam. Kedua tangan mereka saling menggenggam, lalu mencengkram makhluk kecil itu sangat kuat.
Satu menit setelah itu, Akila melepaskan cengkramannya dari cengkraman tangan Azzam.
Burung kutilang bernama “B” di genggaman Azzam terlihat sudah mati.
“Seperti itulah aku nanti!”Akila mengancam Azzam. Gadis itu tampak sangat kesal.
Azzam diam, terlihat menyesal.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi.
Tiba-tiba Akila merasakan perutnya teramat sakit. Ia melangkah mundur (agak sempoyongan) dengan memeluk perutnya sembari merintih kesakitan.
Azzam segera bangun dari duduknya, menghampiri kekasihnya.
“Berhenti. Jangan dekati aku!”Akila melarang Azzam mendekatinya.
Azzam pun berhenti di dua meter di depan Akila.
Mendadak, perut Akila tak terasa sakit lagi. Gadis itu terlihat tak pucat lagi.
“B”Azzam memanggil Akila. Dan gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Biarkan aku sendiri.”Akila lalu keluar dari rumahnya. Menuruni tangga dari lantai lima ke lantai satu. Sampai di luar rumah susunnya, ia berlari ke arah timur.

Azzam diam di depan pintu rumahnya yang terbuka. Tak lama kemudian, ia ikut keluar rumah mengejar Akila.

* * *

Azzam kecil (12 tahun) menaiki-mengayuh sepedanya menaiki bukit, menuruni bukit, dan Akila kecil (7 tahun) terus berlari membuntutinya di belakang ……..

Kini Azzam (29 tahun) menaiki-mengayuh sepedanya, mengejar kekasihnya, Akila (24 tahun) yang berjalan seorang diri menuju taman kota yang malam itu dihujani salju-salju pegunungan.

PERSIMPANGAN JALAN, DI DEPAN TAMAN

Akila berdiri, diam, melihat Azzam mengayuh sepedanya (orang Jawa menyebutnya sepeda Ontel) Seolah menghalangi Akila untuk berjalan ke depan, ke kiri, ke kanan, atau mundur ke belakang, Azzam terus mengayuh sepeda ontel itu memutari Akila.

Teppppp (Flashback ke masa lalu, di depan sekolah Azzam)

Akila kecil lelah mengikuti Azzam. Ia jatuh tepat di persimpangan jalan, depan sekolah Azzam. Azzam kecil yang menaiki sepedanya tertawa terbahak-bahak melihatnya, ia lalu memutari Akila dan terus mengoloknya juga memanggilnya. “B”

Teppp (Flashback ke masa sekarang)

Akila yang keluar dari rumah dalam keadaan marah, melihat sikap Azzam seperti itu, seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu, mendadak ingin tertawa.

Azzam berhenti menaiki sepedanya. Ia tersenyum melihat Akila yang sudah tersenyum ke arahnya. Pria itu turun dari sepedanya dan berlari ke arah Akila.

Salju pegunungan turun begitu lebatnya.

Dari taman, aku berdiri melihat Azzam memeluk erat Akila.
Dari taman, aku berdiri melihat Azzam menggendong-belakang Akila, kembali ke rumahnya.
Mereka bergerak menjauhiku.
Dan, bersamaan dengan deru flamboyan, aku memanggil Akila.
“Akilaaa….”
Akila menengok ke belakang. Ia melihatku, melambaikan tangan, tersenyum lebar memandangnya. Dan ia membalasku, melambaikan tangannya serta tersenyum kepadaku.

>>>>>

Sendiri, di taman kota, aku meraba perutku yang mulai membuncit, dan berkata kepada bayiku, “Nak, ibumu baru saja melambaikan tangannya dan tersenyum kepada kita.”

>>>>>

Di atas tempat tidurnya, Azzam dan Akila tidur berdua.
“Kau ingin berkata apa?”Tanya Azzam sembari meraba perut Akila.
“Apa?”
“Di perjalanan tadi kau ingin mengatakan sesuatu.”
Akila tersenyum. “Tapi aku takut membuatmu marah lagi.”
“Cabai hijau di rumah kita sudah habis.”Azzam mencoba melawak.
Akila tertawa dan Azzam ikut tertawa.
Mereka diam. Berpelukan. Lalu,
“Apa kau ingin punya anak?”
Azam diam. Lalu tertawa. “Ingin. Ehmmmm….tidak ingin.”
Akila tersenyum.
“Apa yang kau lakukan jika kau punya seorang anak?”
“Akan kunamakan dia Azzam.”
“Bila dia perempuan?”
“Akila.”
“Bila dia sepertiku?”
Azzam diam. Lalu, “Akan aku bunuh siapapun yang memanggilnya, B.”
Akila tersenyum lalu mencium Azzam.
Tangan Azzam yang melingkar di pinggang Akila, Akila pindahkan, meraba perutnya.
“Azzam!”
“Hmmm.”
“Azzam atau Akila?”
Azzam diam. Bingung.
“Azzam atau Akila?”Maksud Akila adalah, memberi Azzam tebakan apa jenis kelami anak yang dikandungnya itu laki-laki perempuan, sementara Azzam sama sekali tak menyadari kalau di dalam perut Akila kini tengah ada janin bayinya.
“Apa yang kau maksud?”Azzam tersenyum.
“Sepertinya …….aku sedang hamil.”

Tepppp

DOOOOORRRRRRRRR
Azzam terbangun dari tidurnya. Pria itu histeris. Ia melihat banyak darah di tangannya. Empat perawat yang bertugas menjaganya langsung memakaikannya jaket pengekang dan kembali menyuntikkan obat penenang ke pria itu. Karena ia sering mencari sesuatu untuk melukai tangannya bila ia melihat darah di tangannya, dalam imajinasinya.

* * *

Tepppppp

Apa yang ditakutkan Akila, jikalau Azzam akan merasakan hal yang sangat aneh terhadap kehamilannya, atau menolak kehamilannya, tidak terbukti. Azzam bersikap normal seperti biasanya, bahkan berubah menjadi pria yang sedikit “manis”.

Akila tak tahu kalau Azzam menyimpan rahasia kalau pria itu divonis dokter MANDUL. Bila Akila tahu, maka ia perlu mencari tahu kenapa Azzam bisa menerima kehamilannya, tidak seperti kasusnya dengan Diana.

Azzam memiliki rencana. Dan rencana itu, hanya diketahui pria posesif itu sendiri.

>>>>

Tengah malam, Azzam memberitahu Akila kalau mereka akan pindah di perumahan pedesaan di pinggiran kota. Tak ada alasan. Dan Azzam meminta Akila untuk tak menolaknya.

Keesokan harinya, Akila mengepaki semua pakaian miliknya dan milik Azzam. Semua perabotan juga sudah terkepak dan mulai dipindahkan oleh pekerja-pekerja dari perusahaan jasa “MAKE MOVE EASY” , khusus untuk orang yang mau pindahan.

Ketika mengepai pakaian, tak sengaja Akila menemukan sesuatu yang membuat matanya terbelalak di antara tumpukan pakaian Azzam. Ia menemukan pistol berlaras “anti suara”.

Akila berhenti mengepaki pakaian Azzam. Ia keluar dari kamarnya mencari Azzam. Tak ditemukan, ia keluar dari rumahnya. Di lantai tiga, ia berpapasan dengan Baskara yang baru pulang dan akan masuk ke dalam rumahnya.
“Kau akan pindah?”Tanya Baskara.
“Ya. Apa kau melihat Azzam?”
“Dia sepertinya di bawah. Dekat truk yang mengangkut barang-barang kalian.”
Akila terengah-engah. “Terimakasih.”
>>>
Akila turun ke lantai bawah. Dan mencari Azzam di halaman luar rumah susun.
>>>
Sementara itu, di lain pihak, Azzam masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil pistol miliknya yang ada di dalam koper yang baru saja dikepak Akila. Setelah itu ia berjalan meninggalkan kamar, keluar rumah, turun ke lantai tiga, dan mengetuk pintu rumah Baskara.
>>>
Akila seperti orang gila mencari Azzam di halaman luar rumah susunnya. Ia bertanya-tanya ke pekerja-pekerja “MAKE MOVE EASY” dimana Azzam, tak ada yang tahu.
Lelah, dan lagipula untuk apa dia ketakutan karena hanya melihat pistol milik Azzam yang tak digunakan, Akila kembali menaiki tangga, kembali ke rumahnya di lantai lima.
Saat tiba di lantai tiga, tepat di depan pintu rumah Baskara, Akila berhenti sebentar. Menengok pintu tetangganya itu.
Bayangan hitam berjalan tepat di atasnya. Akila langsung menengok ke atas. Ia melihat Azzam berjalan masuk ke dalam rumahnya. Segeralah gadis itu menaiki tangga dan kembali ke rumahnya.

>>>

Di dalam rumah, Akila melihat Azzam mencuci tangannya lalu mengelapnya dengan sapu tangan.
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
“Katakan!”Azzam berjalan mendekati Akila.
“Aku menemukan pistol di pakaianmu.”
Azzam diam. Lalu tersenyum. “Apa kau tak pernah melihat benda itu sebelumnya? Hmmm?”
“Kita tidak sedang bercanda.”Akila membentak Azzam.
“Ayahku mewariskannya untukku. Cuma benda itu yang tak tersita oleh negara.”
Akila langsung diam.
“Kau takut?”
Akila mengangguk.
Azzam langsung memeluknya.
“Benda itu yang akan melindungimu.”Azzam menenangkan Akila sembari membelai rambutnya.

Angin berhembus masuk ke dalam rumah Azzam-Akila yang akan ditinggalkan mereka, membuat gorden-gorden jendela mereka berkibar-kibar, menutupi mereka yang sedang berpelukan dan berciuman.

Mataku yang terus melihat mereka, tiba-tiba ingin kuturunkan ke lantai tiga rumah susun itu. Rumah kontrakan milik Baskara. Jendela rumah pria itu tertutup rapat. Gelap. Seperti tak ada kehidupan, padahal baru saja penghuninya masuk ke dalam rumahnya.

Sebelum akhirnya meninggalkan rumah susunnya, Azzam sempat kembali masuk ke dalam rumah susunnya, sementara Akila menunggunya di dalam mobil.
Sepuluh menit kemudian, Azzam keluar. Ia membawa gulungan karpet panjang, lalu memasukkannya ke bagasi belakang mobil. Akila yang duduk di jok depan sempat melihat aksi Azzam itu melalui kaca spion. Ekspresi wajah gadis itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan.

“Bagaimana?”Tanya Azzam saat masuk ke mobilnya, dan duduk di jok kemudinya.
“Apa lagi yang kita tunggu?”Sahut Akila.
“Tak ada. Semuanya sudah kubawa.”Azzam mengerlingkan matanya menatap Akila, sembari tersenyum.

>>>

Daun-daun kering di aspal jalan berterbangan, menjadi bingkai yang indah saat pasangan itu meninggalkan rumah susunnya menuju rumah baru mereka, di selatan Savana, dekat kota Delta.

>>>>

Tepppp. Lampu ruang tamu dan seluruh ruangan di rumah baru Azzam dan Akila menyala.
“Inilah rumah baru kita.”
Akila melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah barunya.
Jendela lebar di sisi kanan ruang tamunya terbuka. Akila menolehnya. Ia melihat padang rumput dengan pepohonan cemara dan pinus, menjadi pekarangan sampingnya.
Gadis itu melongoh tak percaya, “Hoh….. bagaimana bisa kau mendapatkan tempat seindah ini?”
“Karena aku ingin kita berakhir di tempat ini.”Azzam memeluk Akila dari belakang. Merak berdua sama-sama memandang jauh bukit cemara yang ada jauh di depan mereka. Salju-salju pegunungan terus berguguran di luar. Dingin. Dan Azzam mengeratkan pelukannya ke Akila.
“Seorang produser ingin membuat setting cerita filmnya di tempat-tempat terindahnya.”
Akila diam. Lalu, “Tapi aku tak ingin film ini berakhir sekarang. Dua puluh empat tahun aku menjadi aktor di film yang diproduseri serta disutradari Tuhan, aku selalu mendapat peran tertindas dan teraniaya. Aku menjadi manusia kerdil yang selalu bermimpi menjadi Cinderella meski filmku bukan film dongeng Cinderella. Sampai kau mengubah skenarionya. Baru satu scene inilah aku mendapatkan peran sebagai manusia yang bahagia. Aku tetap bukan Cinderella, tapi aku bahagia, aku jatuh cinta. Bersamamu. Kau aktorku. Bila Tuhan mengakhiri film kita ini saat ini juga, mungkin aku akan menyebut-Nya kejam.”

* * *

Aku membuka gorden jendela kamar rawat Azzam. Pria itu duduk di bangkunya, merunduk, mengenakan pakaian putih, kopyah putih, dan mengulir tasbih. Semalam, aku mengajarinya menggunakan tasbih. Kami berdua melantunkan doa-doa yang sudah sangat lama ia lupakan.

“Kau sudah bisa memakainya sendiri!”Bisikku di dekatnya.
Azzam terus mengulir butir demi butir tasbihnya. Namun aku tak mendengar ia menggumamkan doa. Tentu saja, bagaimana mungkin ia bisa membaca doa dengan keadaannya seperti saat ini.
Aku lalu membisikkan doa-doa dalam ayat Al-quran di telinganya, sembari ia terus mengulir tasbihnya.
Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit, sepuluh menit, aku mulai meneteskan air mata. Dan Azzam kemudian diam, berhenti mengulir tasbihnya.
“B”Azzam menolehku.
Aku tersenyum sembari meneteskan air mata. Lalu mengganggukan wajah.
“Ini aku. B.”
“B?”Azzam kembali memanggilku. Tapi kemudian ,,,,, “B?”Azzam memalingkan mukanya, menatap lurus ke depan, kosong, dan tangannya kembali mengulir tasbih. “B.”
Ku hentikan tangisanku. Kembali kubacakan doa-doa di dekat telinganya. Kupeluk dia dari samping.

* * *

“Assalamualaikum ….”
Kuakhiri shalatku.
Kulepas mukenahku, dan aku mendengar suara mobil Azzam datang.

>>>>

“Kau dari mana saja?”aku keluar kamar melihatnya masuk ke ruang tamu lewat pintu samping (dari arah garasi).
“Ehmmm…. aku dari Delta. Ada sesuatu yang harus kukerjakan di sana.”
Akila diam, melihat sesuatu yang disembunyikan Azzam di belakang tubuhnya.
“Apa itu?”
Azzam tersenyum. “Pakai ini untukku.”Azzam lalu memakaikan mahkota dari untaian daun beringin dan paku liar yang ia petik di sumur tua dekat sekolahnya di Delta, ke kepala Akila.
“Kau ke sekolahmu juga?”Akila tertawa tak menyangka Azzam akan bersikap konyol seperti saat ini.
“Aku rindu sumur yang membuatmu sangat membenciku.”
“Kau melempar buku tulis yang kau janjikan untukku ke sumur itu.”
Azzam tersenyum, ia meraih wajah Akila, lalu ia melihat perut Akila, dan kemudian dipegangnya.
“Sudah berapa bulan?”
“Aku tidak tahu.”
“Jaga dia untukku… hinngga… hingga aku sendiri yang akan menjaganya.”
Akila tersenyum, “Ya. Tapi sekarang, mandilah! Kau sangat bau!”
Azzam pun segera masuk ke dalam kamarnya. Dan Akila seorang diri tersenyum sembari melihat perutnya yang membunyi di cermin lebar yang terpajang di tembok, semeter di depannya.
“Kira-kira sudah berapa bulan?”
Akila tak pernah memeriksakan kandungannya ke dokter karena dia malu. Bila ada orang yang tahu kalau orang berkelamin ganda sepertinya hamil, bisa-bisa beritanya akan menjadi berita heboh nasional. Dan itu akan membuatnya sangat malu.
“Apa aku harus menemui dokter?”
“Tidak…tidak… aku tidak bisa…Tapi…. Ya… Ya… aku harus menemui dokter. Aku harus berani. Dunia boleh tertawa nanti… yang terpenting aku akan membuktikan kalau aku juga seperti mereka (wanita normal pada umumnya).”
Tepppp.
Akila meraba perutnya. Dan ketika itu, satu sosok yang melintas di ingatannya hanyalah,
“Diana?”
Akila berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia mencari ponsel milik Azzam. Ditemukan. Langsung ia mencari nomor ponsel Diana. Ditemukan.

>>>>>

Kringgggggggggggggggg
“Haloooo.”Diana duduk sedang menyusui bayi lelakinya yang baru berusia satu minggu.
“Selamat malam. Ini aku. Akila.”
“Akila?”Diana terkejut.
“Bagaimana keadaanmu?”Tanya Akila.
Dan terdengar suara tangisan bayinya Diana. Pelayan Diana segera mengambil alih bayi itu, sehingga memudahkan Diana menjawab pertanyaan Akila.
“Aku baik-baik saja. Kau baru saja mendengar suara tangisan siapa itu.”
“Kau sudah melahirkan?”
“Ya. Seminggu yang lalu.”
“Kenapa kau tak memberitahunya (Azzam)?”Tanya Akila merasa berdosa kepada Diana.
“Untuk ia meludahi anakku? Tidak. Aku tidak akan pernah memberitahunya.”
Akila diam. Lalu,
“Boleh aku menemuimu besok?”
“Kau sendirian?”tanya Diana yang takut kalau Akila mengajak Azzam.
“Bila kau tak ingin dia datang, aku akan sendirian.”
“Aku lebih suka kau datang sendirian. Bukankah sekarang kita sudah menjadi teman.”
“Baiklah. Besok sepulang kerja, aku akan mampir ke tempatmu.”
“Apa kau masih ingat tempatku?”Sindir Diana.
“Kau menamparku di tempat itu. Bagaimana mungkin aku lupa tempat itu?”
Diana tertawa. “Baiklah. Aku akan menunggumu, dan menunggu calon saudara bayiku.”
Akila kembali memeluk perutnya.
Teppp…..Telepon terputus.
Teppp, lampu di kamar Akila mendadak padam.
Menyala lagi.
Akila yang masih memegang ponsel, dikejutkan oleh bayangan seseorang yang berjalan di depan jendela kamarnya. Penasaran, Akila mendekati jendelannya, menyingkap gorden putih transparannya, dan ia melihat,
“Baskara?”

* * *

Rumah Diana, Jakarta
SORE

TOK TOK TOK
“Nyonya Diana ada di rumah?”
“Beliau sudah menunggu anda. Silahkan!”Jawab pelayan itu dengan sopan, mengantarkan Akila ke ruang tamu, tempat dimana dulu Diana menampar Akila.
“Hai.”Sapa Diana yang sudah berdiri menunggu Akila, di ruang tamunya. Sore itu Diana terlihat bersama bayi laki-laki yang baru dilahirkannya.
“Hai.”Akila tersenyum kikuk. Ia menatap nyalang bayi kecil yang digendong Diana.
“Apa aku benar?”Diana tersenyum melihat perut Akila yang membuncit.
“Oh… Yah… kau benar.”Akila meraba perutnya.
“Kau menganggapnya mustahil, tapi tidak untuk Tuhan.”
Akila lalu melangkah menghampiri Diana. Dia membawa sekantong buah-tangan untuk Diana dan bayinya. Mereka lalu duduk bersebelahan. Dan Diana menunjukkan bayinya ke Akila.
“Dia laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki.”
“Dia sangat tampan.”
Diana tersenyum, lalu membuka kancing baju bayinya, menunjukkan sesuatu yang ada di dada bayinya itu kepada Akila. “Apa kau mengenali tanda ini?”
Akila terkejut. Matanya terbelalak memandang Diana.
“Aku tidak mengkhianatinya. Aku tidak mengkhianatinya.”Diana meraih pergelangan tangan Akila yang gemetaran. “Anak ini adalah anaknya.”
“Kau harus memberitahunya.”
“Tidak. Tidak akan pernah. Dia sudah menolaknya.”
“Aku yang akan memberitahunya.”
“Untuk apa?”
“Untuk memberitahunya kalau selama ini dia salah.”
“Aku memakluminya. Dia punya alasan, Akila.”
“Alasan?”
“Yah. Dia memiliki satu alasan yang sangat kuat. Mungkin dia belum memberitahumu.”
“Belum memberitahuku?”
Diana mengangguk. “Itulah kenapa saat kau meneleponku dengan ponsel miliknya, aku sangat terkejut. Karena ternyata kau masih bersamanya padahal kau juga mengandung sepertiku. Kukira kau sudah dibuangnya sepertiku, atau bahkan… sudah dibunuhnya.”
“Dibunuhnya?”
“Akila…. dia mandul.”
“Mandul?”emosi Akila tak karuan.
“Itulah alasannya menuduhku berselingkuh ketika aku mengandung anak ini.”
“Mandul?”Akila seperti orang linglung.
“Tapi dia salah. Dia divonis manusia. Bukan Tuhan”
Akila gemetaran terus memandang Diana.
“Aku bukan Nabi, Rasul, ataupun orang ‘terpilih’ dari Tuhan. Tapi aku juga memiliki Tuhan. Aku tak menganggap kehamilanmu mukjizat untukku. Aku menganggapnya ‘kebetulan’. Engkau berkelamin ganda itu suatu kebetulan yang tak terduga. Karena.. karena… jika bukan kebetulan, takdir akan memilih wanita lain untuk Azzam … untuk mengandung anaknya.”
Akila meneteskan air matanya, “Itu kenapa kau menyebutku bukti hidup yang dikirimkan Tuhan untukmu, juga jawaban siapa sejatinya ayah anakmu?”
Diana mengangguk.
“Akila, apa kau baik-baik saja selama ini?”
“Ya. Tapi aku mulai ketakutan. Bila dia masih menganggap dirinya mandul, bagaimana mungkin dia bisa menerima anak yang aku kandung ini anaknya? Bagaimana mungkin selama ini keadaan kami baik-baik saja? Aku mulai takut…. aku mulai tak mengenalinya…”
“Apa kau yakin keadaan kalian baik-baik saja?”
Akila diam.
Dian melanjutkan ceritanya, “Sepuluh tahun yang lalu, Azzam dipenjara satu tahun setelah memukul dan menyekap kekasihnya di dalam apartemen milik saudaranya. Mungkin jika keluarganya bukan dari kalangan terpandang, hukumannya pasti lebih lama.”
“Delapan tahun yang lalu, ia hampir membunuh dua pria tua yang diketahui pernah ‘memakai’ kekasihnya yang ternyata seorang pelacur. Kasus itu menguap seperti parfum. Hanya di kalangan sosialite terpandang Jakarta saja yang tahu, karena melibatkan tiga keluarga terkemuka.”
“Lima tahun yang lalu, sahabat karibnya dilaporkan menghilang oleh pihak keluarga. Sampai sekarang sahabatnya itu belum kembali dan ditemukan. Dia menghilang saat melakukan pendakian di gunung dekat Delta, bersama Azzam juga perkumpulan sosialite mereka. Hal itu tidak akan menganggumu jika sahabat Azzam yang hilang itu bukan orang yang merebut kekasih Azzam saat itu. Tak banyak yang tahu. Mereka yang tahu pun tak akan berani membuka cerita ini.”
“Lalu apa saja yang dia lakukan terhadapmu?”
“Aku pernah bilang, lebih baik aku memakan pasir daripada aku harus mengingat masa laluku bersama dia.”

Teppppp. Mata Akila terbuka. Dia sudah di dalam bus kota. Savana.

Ingatan akan ucapan terakhir Diana masih membayang-bayangi Akila.
“Diana, apa kau memiliki teman pria saat ini? Bila ya, dan bila aku menjadi dirimu, aku akan mendatangi teman priaku itu. Apakah dia masih hidup?”
Teppp. Mata Akila kembali terbuka. Bus yang ia tumpangi kebetulan sedang melintasi area dekat tempat tinggalnya dulu. Rumah susunnya yang baru ia tinggalkan beberapa hari yang lalu.

Seorang diri, Akila menaiki tangga rumah susun itu, menuju lantai tiga. Rumah kontrakan Baskara.

Akila mengetuk pintu. Tak ada sahutan. Akila memanggil Baskara. Juga tak ada sahutan. Dicobanya membuka pintu rumah itu, tapi terkunci. Tak mau menyerah, Akila menggeser bangku kayu dekat tong sampah di dekat tangga, ke depan pintu rumah Baskara. Ia lalu menaikinya. Hingga bisa melihat keadaan di dalam rumah Baskara dari ventilasi di atas pintu.

Kosong. Tak ada tanda-tanda Baskara ada di dalam. Namun ada yang aneh. Kursi ruang tamu Baskara bergulingan di lantai. Beberapa perabotan dekat kursi-kursi itu pecah dan berserakan . Akila lalu melihat sesuatu yang menempel di jendela kaca yang menyerupai darah yang mengering.

“Hehhh… ehhh… tidak… tidak mungkin.”

Akila berlari menuruni tangga. Ia lupa kalau sedang hamil. Dipanggilnya taksi. Ia pun segera pulang kembali ke rumahnya.

>>>>>

Di lain pihak, Diana menelepon Azzam yang sore itu sedang mengemudikan mobilnya untuk dalam perjalanan pulang ke rumahnya.

“Halo!”
“Kau?”Azzam tampak sinis. Terkejut.
“Bagaimana kabarmu?”
“Aku tak suka membuang-buang waktuku.”
“Baiklah. Aku hanya memberitahukan, kalau kau, memang benar.”
“Apa maksudmu?”Azzam menghentikan mobilnya.
“Anak ini, yang baru kulahirkan, memang bukan anakmu.”

Teppppp. Azzam melemparkan ponselnya ke jok di sampingnya. Dengan kecepatan tinggi, Azzam mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.

Sendiri di dalam kamar, Diana tertawa tak henti-hentinya.
“Akila….. lebih baik aku memakan pasir, daripada aku harus melihat kau lebih bahagia daripada diriku.”

>>>

Sampai di rumahnya, sembari melangkah masuk ke kamarnya, Akila mengingat saat ia menemukan pistol Azzam di waktu mengepakai pakaian sebelum mereka pindah. Akila melihat jelas isi peluru dalam pistol itu berjumlah enam.

Teppp. Akila membuka pintu kamarnya. Ia segera menghampiri almari. Dibongkarnya tumpukan-tumpukan pakaian Azzam. Di tumpukan terbawah, akhirnya ia menemukan pistol milik Azzam itu. Segera dibuka pelongsongnya, dan alangkah terkejutnya Akila saat mendapati peluru di pistol itu kini berkurang dua.

“Apa yang kau lakukan dengan benda itu?”Tanya Azzam yang datang secara mengejutkan.
Akila langsung membalikkan badannya menghadap Azzam.
“Apa yang kau lakukan dengan benda itu?”Azzam mendekati Akila.
“Aku menghitung pelurunya.”Akila melangkah mundur menghindari Azzam.
“Dan?”
“Dan pelurunya berkurang dua.”Akila gelagapan.
Azzam tertawa.
“Apa yang kau lakukan di Delta semalam?”tanya Akila, gelagapan, gemetaran, dan ketakutan.
Azzam diam.
“Apa… apa… kau sudah membunuh Baskara?”
Azzam tertawa, namun setelah itu ia menendang kursi yang ada di antara mereka hingga kursi itu terguling ke jendela. Pyarrrrrrrrrrrrrrrrr
“Percayalah padaku! Semua baik-baik saja. Aku tidak berbuat gila. ”
“Sikapmu berubah-ubah kepadaku. Bagaimana mungkin kini aku bisa mempercayaimu? Aku bahkan tak tahu, apakah kini kau menganggap anak ini anakmu?”
“Anak itu adalah anakku.”
“Kau bohong. Kau penipu. Kau membohongi dirimu sendiri, karena kau masih menganggap dirimu sebagai pria yang Man…. yang tidak bisa memiliki keturunan.”
Petir menggelegar. Azzam terkejut, tahu kalau Akila sudah mengetahui kalau dirinya mandul.
“Bagaimana kau bisa tahu itu semua? Katakan!”
Akila diam. Azzam lalu tahu siapa yang memberitahu Akila kalau dirinya mandul.
“Pasti…. pasti dia yang memberitahumu.”
“Apakah itu penting? Apakah sangat penting untuk kau terus membohongiku juga membohongi dirimu sendiri, berpura-pura kalau anak ini anakmu? Berpura-pura kalau kita saat ini baik-baik saja? Cukup. Cukup. Hentikan saat ini juga. Jangan buat aku sebagai mainanmu seperti saat kita kecil dulu! Kalau kau tak ingin mengakui anak ini anakmu, katakan saja! Aku akan terima. Aku akan pergi jauh darimu. Tapi Jangan minta aku ikut dalam permainan gilamu. Aku mohon.”
Akila menangis di depan Azzam. Melihat itu, Azzam langsung mendekap Akila, membawa tubuh gadis itu ke atas ranjang, lalu menindihinya seperti posisi dua orang yang akan bercinta.
“Aku takut kehilanganmu. Aku takut kehilangan lagi. Tahukah kau?”Azzam memaksa Akila untuk bercinta. Pria itu seperti kesetanan.
“Azzam, lepaskan aku!”
“Ssstttt…. dengarkan aku! Dengarkan aku! Aku… aku sudah membunuh pria itu! Aku bahkan sudah membuangnya. Kau ingat sumur dekat sekolahku, tempat kulempar buku tulis yang kujanjikan untukmu? Disanalah aku membuangnya. Sumur itu membuatmu membenciku. Sangat membenciku hingga saat aku meninggalkanmu kau tak berlari mengejarku.”
“Tidak. Kau gila. Kau sakit.”
“Aku sudah sembuh. Aku sembuh saat aku kembali menemukanmu. Tapi ternyata, tapi ternyata kau membuatku kembali sakit bahkan jauh lebih sakit dari sebelumnya.”Azzam membentak Akila sembari mengangkat kepala gadis itu lalu menjatuhkannya.
“Tapi ini anakmu.”
Azzam mengeleng-gelengkan kepala.
“Anak ini anakmu.”
“Aku akan membunuhmu bila kau terus menyebut anak ini anakku.”
Teppppp
DOOOORRRRRR
Tepppp
Tubuh Azzam yang semula di atas tubuh Akila, perlahan jatuh ke lantai.
Akila yang memegang pistol, tangannya digelimangi darah. Ia baru saja menembak Azzam.
Ketakutan, panik, dan bingung, Akila segera bangun dari tempat tidurnya.
Ia melihat Azzam terus memanggil-manggil dirinya di lantai.
Karena begitu paniknya dan ketakutan, Akila lalu membuang pistol itu ke lantai. Segera diambilnya mantel tebalnya, dipakainya, dan dia berlari keluar rumah.

TAKSIIIIIIIIIII

“Kemana, Nona?”
“Delta.”

* * *

DELTA
Pukul 12 Malam

Hujan salju.

Tepat di bukit depan sekolah Azzam, letak sumur tua, tempat Azzam membuang mayat Baskara, Akila turun dari taksinya. Gadis itu lalu berjalan masuk ke area sekolah dengan tergopoh-gopoh.

Di tepi atas sumur tua itu, Akila menengok ke dalam sumur tua itu mencari tahu dengan mata kepalanya sendiri apakah benar Baskara dibuang Azzam disana. Namun, ia tak melihat apa-apa. Gelap. Bahkan suara percikan sumur itu pun tak terdengar.

“Baskara, maafkan aku!”Ucap Akila, lalu ia membalikkan badannya. Niatnya ia akan kembali ke rumah orang tuanya, namun apa daya, ketika membalikkan badan, ia langsung berhadapan dengan Azzam.
Azzam berdiri agak sempoyongan. Lengannya bergelimangan darah. Tembakan Akila tadi hanya menyempet lengan kanan bagian atasnnya.
“Kau?”Akila nyalang. Lalu,
Byurrrrrrrrrr
Azzam mendorong Akila ke dalam sumur tua di belakangnya.
Dengan tangan bergelimangan darah dan memegang pistol, Azzam berdiri memandangi sumur tua itu. Lalu ia menjatuhkan dirinya ke tumpukan salju di tanah.

Azzam duduk bersimpu di atas tumpukan salju. Tangan kananya sudah mengarahkan pistol ke kepalanya. Ia siap mengakhiri hidupnya. Namun,

“Kenapa kau membuang buku itu?”Tanya Akila kecil yang tiba-tiba berdiri di dekat sumur, menangis iba memandangnya.

“Aku membencimu. Aku tak akan lagi mengikutimu. Kau membuang buku yang kau janjikan untukku.”Tambah Akila kecil yang lalu menghilang.

Diam. Azzam lalu bangunan dari duduknya. Ia berlari mendekati sumur tua itu. Wajahnya tampak panik. Lalu ia berteriak, “A..K…I…L…A…”

>>>>
Tepppp….

Azzam berlari mencari tangga di belakang sekolah, dengan sebelumnya ia menghubungi polisi kota Delta.

Seorang diri, Azzam menuruni sumur itu dengan tangga. Lima menit kemudian para polisi kota Delta berdatangan. Dan itu menarik perhatian banyak orang. Hampir seluruh warga desa asal Azzam dan Akila kemudian berdatangan.

Dengan alat katrol yang cukup canggih, para polisi itu berhasil membantu Azzam untuk mengangkat ke atas tubuh Akila yang berhasil ditemukan.

Seperti yang sudah diberitahukan Azzam, bahwa selain Akila, masih ada mayat Baskara yang berada di sumur tua itu. Dan polisi pun segera mengangkat mayat Baskara juga.

Berbaring di sebelah tubuh Akila, Azzam terus memandang gadis itu, dan tangannya terus memegang jemari tangan Akila.

Teppp. Kedua mata Azzam terpejam.

RUMAH SAKIT UMUM DELTA

Dengan pengawasan petugas kepolisian yang sangat ketat, Azzam dirawat. Lima jam setelah ia siuman, Diana adalah tamu pertama yang menjenguknya.

Keadaan Azzam saat Diana menjenguknya sangatlah mengerikan. Pria itu seperti pria gila. Ia linglung. Tatapanya kosong. Namun ia masih bisa diajak bicara.

“Azzam!”Diana berdiri di sebelah tempat tidurnya.
Azzam diam.
“Aku baru saja memenangkan permainan. Kau kalah.”nada bicara Diana seolah dia sedang berbahagia dan bangga.
Azzam menengok Diana. “Pergilah!”
“Tidak. Sebelum aku menunjukkanmu sesuatu. Dan juga memberitahumu sesuatu.”
“Apa itu?”
Diana lalu menunjukkan foto bayinya kepada Azzam. Ada tanda lahir kotak hitam di dada bayi itu, seperti yang dimiliki Azzam.
“Dia adalah anakku. Dan anakmu.”
Azzam menatap Diana dengan tajam.
“Kalian memiliki tanda lahir sama. Bahkan golongan darah kalian pun sama. B negatif. Maafkan aku, maafkan aku karena sore itu aku meneleponmu hanya untuk membohongimu. Aku berkata, dia bukan anakmu. Saat itu aku berbohong. Dia anak kandungmu yang tak kau akui karena kau sangat yakin kalau dirimu mandul.”
“Kau membohongiku?”
Diana tertawa. “Agar membunuh Akila juga anakmu yang dikandungnya. Aku membencinya. Aku sangat membencinya. Tapi itu dulu. Kau kau sudah membunuhnya bersama anaknya.”

Tepppppppppp

RUMAH SAKIT JIWA DELTA (SEKARANG)

Azzam mencium pipiku sebelum matanya terpejam.
Kubiarkan dia tertidur dalam dekapan malam.
Aku menggerakkan kakiku pelan, meninggalkannya sendirian.

…….

“Selamat malam!”
Aku meninggalkan rumah sakit jiwa.
Berjalan kaki di jalanan kota yang malam itu sangat sepi.
Salju terus berjatuhan. Pepohonan rindang terus berderu-desah.
Tak terasa, tujuanku sudah di depan mata
Aku kembali lagi ke tempatku,

RUMAH SAKIT DELTA

Di kamar no 124 Blok Anggrek, aku melihat diriku tertidur di atas tempat tidur yang beberapa bulan belakangan ini kutempati. AKILA. 25 TAHUN. Itu adalah aku.Dan malam ini, aku harus kembali ke tubuhku.

Teppppp.

Mataku terbuka. Jari-jariku bergerak. Lalu,

“Dokter, dia sudah sadar! Dia sudah sadar dari komanya.”Seorang suster berlari memberitahu dokter yang merawatku.

* * *

ENAM BULAN KEMUDIAN

Pemakaman Delta.

Bersama adikku, aku menemui makam anak kandungku. Dia menghilang dari tubuhku tanpa seizinku. Dia masih sangat kecil, janin yang berusia tiga bulan.

Adikku memberitahuku dimana letak makam anakku.
Kulihat, tanah makamnya tak terawat. Tak ada bunga, bahkan tak ada nama di pusaranya.

Usai menamburkan bunga, aku mengambil batu bata merah di dekat makam. Kugoreskan batu bata merah itu ke pusara anakku. Aku menuliskan nama anakku itu di pusaranya. Karena aku tak tahu apa jenis kelaminnya, dan hanya tahu siapa ayah kandungnya, maka aku memberinya nama,

B

Azzam Dibrata Uzman

Ketika hendak meninggalkan pemakaman, aku dipanggil Azzam kecil dan Akila kecil.

“B.”
“B.”
Aku membalikkan badan.
Mereka melihatku. Mereka duduk di antara makam anakku.
“B”Ucap Azzam kecil sembari tersenyum lebar menunjuk ama anakku di pusaranya.
Aku mengangguk, tersenyum lebar, sembari meneteskan air mata.
“B”Ucap Akila kecil, diriku, yang melambaikan tangannya.
“B.”Sahutku sembari membalas lambaian tangan mereka.

“Selamat tinggal.”

T A M A T

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s