Kolesterol selalu dikaitkan dengan timbulnya penyakit kardiovaskuler (PKV), meskipun ada juga manfaatnya bagi tubuh, misalnya sebagai bahan dasar pembentuk hormon seks, vitamin D dan sintesis asam empedu. Selain digunakan dalam proses pencernaan minyak atau lemak yang dikonsumsi, asam empedu juga merupakan jalur pembuangan kolesterol dari dalam tubuh.

Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT), jumlah pengidap kadar total kolesterol tinggi (> 200 mg %) di Jawa dan Bali (umur > 25 tahun) pada tahun 2001 berjumlah 7,0 % dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 12,8 %. Menurut pengamatan pribadi, nampaknya ”awareness” masyarakat akan kadar kolesterol dalam darahnya masih rendah. Mereka baru akan berupaya sekeras mungkin untuk menurunkan kadar kolesterol hanya apabila telah terjadi akibat lebih lanjut, misalnya serangan jantung atau stroke (tentunya yang tidak fatal).

Pada umumnya masyarakat hanya mengenal kadar kolesterol total dalam darah sebagai acuan kesehatan tubuhnya. Walaupun tidak terlalu benar karena harus juga mempertimbangkan kadar LDL, HDL dan trigliserida, tetapi ternyata terdapat hubungan antara kadar kolesterol total dengan kadar kolesterol LDL yang lebih berperan dalam timbulnya PKV (Tabel 1). Dengan kata lain, apabila kadar kolesterol total rendah, berarti kadar LDL juga rendah, dan demikian pula sebaliknya.

Sedikitnya ada dua macam lipoprotein yang berkaitan dengan PKV, yaitu LDL (low density lipoprotein) yang seringkali disebut sebagai ”kolesterol jahat” dan HDL (high density lipoprotein) yang seringkali disebut sebagai ”kolesterol baik”. Di samping itu, terdapat juga senyawa lain berupa lemak/minyak yang dikenal sebagai trigliserida. Pedoman klinis untuk menghubungkan profil lipid dalam darah dengan risiko timbulnya PKV diperlihatkan pada Tabel 2. Faktor utama penyebab tingginya kadar kolesterol dalam darah adalah pola konsumsi pangan. Pada waktu ini pola konsumsi pangan masyarakat (golongan menengah dan atas) telah berubah dari pola konvensional yang kaya akan karbohidrat, menjadi pola ”modern” yang kaya akan protein dan lemak (hewani) serta tinggi kandungan gula (sukrosa) dan garam (NaCl). Pangan hewani (daging, susu, telur) bukan hanya kaya akan kolesterol dan lemak jenuh, tetapi juga bersifat aterogenik (meningkatkan kadar kolesterol dalam darah)

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa protein nabati khususnya dari golongan kacang-kacangan dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Hasil yang sama telah dibuktikan pula pada manusia. Oleh karena itu, US-FDA memberikan ijin klaim ”protein kedelai dapat menurunkan kadar kolesterol dalam plasma darah”; dengan dosis 25 g protein kedelai per hari. Banyak hipotesis yang diajukan menyangkut mekanisme penurunan kadar kolesterol dalam plasma darah oleh protein kedelai, antara lain: (a) menurunkan sintesis kolesterol dalam hati, (b) meningkatkan sintesis asam empedu (dari kolesterol) dalam hati, (c) meningkatkan ekskresi (pembuangan) asam empedu ke dalam feses, (d) mengurangi penyerapan kembali asam empedu oleh usus, dan (e) mengurangi penyerapan kolesterol dari makanan oleh usus.

Di dalam kedelai terkandung pula isoflavon, terutama daidzein dan genistein. Hasil penelitian pada wanita post-menopause menunjukkan bahwa penambahan isoflavon pada protein kedelai secara nyata dapat menurunkan kadar kolesterol total dan LDL serta meningkatkan kadar HDL. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa protein kedelai yang mengandung isoflavon dapat meningkatkan fungsi saluran darah dan menurunkan tekanan darah.

Meskipun kedelai telah terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol total dan LDL serta dapat mencegah timbulnya PKV, namun peningkatan konsumsinya di Indonesia tidak nyata. Terdapat kenaikan konsumsi kedelai secara nasional, tetapi hal ini lebih disebabkan karena bertambahnya jumlah penduduk, bukan akibat peningkatan konsumsi per kapita; dan produk olahan kedelai yang paling banyak dikonsumsi tetap saja tidak berubah, yaitu tahu dan tempe. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh industri pangan dengan cara memproduksi pangan olahan kedelai, misalnya susu kedelai; namun nampaknya konsumen kurang dapat menerimanya. Masalah ”klasik” dari produk olahan kedelai adalah bau ”langu” yang kurang dapat diterima oleh konsumen. Di samping itu, isoflavon juga memberikan citarasa (after taste) yang pahit.

Pangan hewani banyak mengandung lemak jenuh. Sudah dibuktikan bahwa asam lemak jenuh dapat meningkatkan kadar LDL dalam darah. Hasil-hasil penelitian berikutnya membuktikan bahwa hanya asam lemak jenuh rantai panjang (> 12 C) yang dapat meningkatkan kadar LDL, sedangkan asam lemak jenuh dengan panjang rantai karbon kurang dari 12 tidak. Selanjutnya asam lemak jenuh berantai medium (C6 – C12) dikenal dengan sebutan MCFA (medium-chain fatty acids), sedangkan yang berantai pendek (C2, C3 dan C4) dikenal dengan sebutan SCFA (short-chain fatty acids). Minyak yang hanya mengandung MCFA selanjutnya dikenal dengan sebutan MCT (medium-chain triglyceride). MCT telah diproduksi (di luar negeri) dan dikonsumsi untuk menurunkan kadar LDL dalam darah; namun nampaknya produk ini belum banyak diketahui konsumen Indonesia. Sedangkan asam lemak jenuh C4 (butirat), telah diketahui dapat menurunkan sintesis kolesterol dalam hati.

Kacang-kacangan (terutama kedelai) dan minyak/lemak ikan laut banyak mengandung asam lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acids, PUFA), termasuk asam lemak omega-3. Minyak kedelai banyak mengandung asam lemak omega-3: asam linolenat; sedangkan minyak/lemak ikan laut banyak mengandung asam lemak omega-3: EPA (eikosapentaenoat) dan DHA (dokosa-heksaenoat). Hasil-hasil penelitian membuktikan bahwa asam lemak tidak jenuh jamak (termasuk asam lemak omega-3) dapat menurunkan kadar LDL dalam darah. Dosis konsumsi asam lemak omega-3 adalah minimum 1 gram per hari dan maksimum 5 – 10 gram per hari. Konsumsi asam lemak tidak jenuh jamak harus selalu disertai dengan konsumsi vitamin E (sebagai antioksidan).

Konsumen di Indonesia masih banyak yang belum mengerti tentang sifat asam lemak tidak jenuh jamak. Misalnya diproduksi sebagai ”salad oil”, tetapi banyak konsumen yang menggunakannya sebagai minyak goreng, sehingga manfaatnya hilang selama proses penggorengan. Asam lemak omega-3 khususnya yang berasal dari minyak ikan (EPA dan DHA) telah banyak diproduksi dan dikonsumsi sebagai suplemen (dalam bentuk kapsul). Ada usaha dari beberapa industri pangan untuk mencampurkannya dengan susu, tetapi nampaknya ”bau amis” yang berasal dari asam lemak EPA dan DHA menjadi kendala untuk lebih dapat diterima oleh konsumen.

Senyawa minor yang strukturnya mirip kolesterol terdapat dalam beberapa macam bahan pangan nabati dan dikenal sebagai sterol nabati, yaitu fitosterol dan fitostanol. Hasil-hasil penelitian membuktikan bahwa fitosterol dan fitostanol dapat mencegah penyerapan kolesterol dalam usus, sehingga diharapkan dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Pada masa ini senyawa tersebut paling banyak digabungkan dalam margarin; belum banyak perhatian pihak industri pangan untuk mencampurkan senyawa ini ke dalam produk pangan lain.

Sampai sekarang nampaknya yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi sebagai suplemen maupun ingridien pangan penurun kadar kolesterol adalah serat pangan (dietary fiber). Dikenal dua macam serat pangan, yaitu serat pangan larut (soluble dietary fiber, SDF) dan serat pangan tidak larut (insoluble dietary fiber, IDF). Serat pangan larut antara lain: pektin, gum dan hemiselulosa; sedangkan yang tergolong sebagai serat pangan tidak larut adalah: selulosa, hemiselulosa dan lignin. Hanya serat pangan larut yang dapat berfungsi sebagai bahan penurun kadar kolesterol dalam darah. Mekanisme bagaimana serat pangan larut dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah adalah bahwa serat pangan larut dapat mengikat asam empedu dan meningkatkan pembuangan asam empedu ke feses, sehingga akan meningkatkan konversi kolesterol yang terdapat dalam plasma darah menjadi asam empedu di dalam hati.

Belum banyak yang mengetahui bahwa zat hijau daun (klorofil) juga mempunyai kemampuan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, padahal senyawa ini terdapat di mana-mana di sekeliling kita. Sumber utama klorofil bagi kita adalah sayuran hijau baik mentah maupun yang telah dimasak. Agar kolorofil dari sayuran tersebut dapat diserap oleh usus, sebaiknya dikonsumsi dengan makanan yang mengandung minyak atau lemak. Sekarang terdapat juga suplemen kolorofil (Na-Cu-klorofilin) dalam bentuk cair yang bersifat larut dalam air, sehingga penyerapannya dalam usus tidak memerlukan bantuan minyak atau lemak. Hasil penelitian pada hewan percobaan menunjukkan bahwa pemberian klorofil atau klorofilin secara nyata menurunkan kadar kolesterol total, LDL dan trigliserida. Penelitian berikutnya memperlihatkan bahwa mekanisme penurunan kadar kolesterol dalam plasma oleh klorofil terkait dengan kemampuan klorofil (klorofilin) untuk mengikat asam empedu dan mengurangi penyerapan kembali asam empedu oleh usus.

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s