Penggunaan herba untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan, bagi masyarakat Indonesia bukan merupakan sesuatu yang baru. Survei yang dilakukan pada tahun 2002 oleh Pusat Studi Biofarmaka IPB dan Oxford Natural Product (UK) menunjukkan bahwa terdapat 95 tumbuhan yang digunakan masyarakat untuk mengobati gangguan saluran pencernaan. Tumbuhan-tumbuhan ini dimanfaatkan untuk mengobati beragam indikasi sakit pencernaan seperti salah pencernaan, rasa mual, sakit perut, kolik, diare, disentri dan sebagainya. Kebanyakan bahan-bahan tumbuhan ini diolah untuk dikonsumsi dalam bentuk jamu atau ramuan tradisional.

Penggunaan herba untuk diolah menjadi ingridien pangan, terutama untuk kesehatan pencernaan belum digali lebih jauh. Pemanfaatan untuk bahan pangan dapat dimulai dengan melihat klasifikasi LD50 dari herba yang digunakan untuk ramuan tradisional dan sifat organoleptiknya. Eksplorasi dapat diutamakan ke tumbuhan/tanaman rempah, sayuran dan tanaman dengan kandungan kimia untuk kesehatan pencernaan.

Di pasaran, terdapat paling kurang tiga komponen pangan yang telah dikenal dan ditujukan secara khusus untuk kesehatan saluran pencernaan yaitu probiotik, prebiotik dan serat makan. Probiotik merupakan biopreparasi yang mengandung mikroorganisme hidup yang dapat mengoptimalkan kolonisasi dan komposisi mikroflora dalam usus. Mikroorganisme hidup ini juga mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaruh yang menguntungkan bagi host melalui pengaturan selaput lendir dan kekebalan sistemik Yoghurt adalah pangan yang tergolong dalam kelas ini. Prebiotik adalah suatu bahan pangan yang tidak dapat dicerna yang memiliki efek menguntungkan bagi host melalui stimulasi selektif untuk aktivitas dan pertumbuhan bakteri tertentu di dalam usus. Salah satu bahan yang termasuk prebiotik adalah FOS atau fruktooligosakarida, bahan yang sekarang banyak digunakan untuk pengaya susu formula. Bahan pangan karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan lignin secara umum dikelompokkan sebagai serat makanan.

Ketiga bahan tersebut diyakini dapat meningkatkan fungsi fisiologis yang menguntungkan bagi kesehatan atau mencegah penyakit sehingga dapat dikelompokkan sebagai bahan pangan fungsional. Berkembangnya bahan pangan ini karena adanya konsep bahwa kesehatan yang baik dapat dicapai melalui perawatan dan pemeliharaan mikroorganisme alami dalam tubuh dan penjaminan bekerjanya sistem pencernaan dengan baik.

Keseimbangan mikrobiota pada saluran pencernaan

Sistem pencernaan makanan meliputi mulut, kerongkongan , lambung, hati, kantung empedu, pankreas, usus halus dan usus besar. Dimulai dengan tahap pencernaan makanan secara mekanik dimulut yang kemudian dilanjutkan dengan proses penyerapan gizi makanan di usus dan pada saat itu pula zat-zat mulai berinteraksi dengan mikrobiota yang beragam dan jumlahnya berlimpah. Usus besar manusia mengandungi lebih dari 500 spesies bakteri, dan hampir 99%-nya adalah anaerobik Bakteri-bakteri ini memiliki biomasa lebih dari 100 triliun mikrooganisme/cm3. Mereka mempunyai aktivitas metabolik dan enzimatik yang berpengaruh terhadap gizi dan kesehatan host (tubuh manusia).

Mikroflora dalam usus besar dapat memfermentasi zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna oleh sistem usus halus. Terdapat dua tipe proses fermentasi yang terjadi di dalam usus besar yaitu sakarolitik (fermentasi karbohidrat) dan proteolitik (fermentasi protein). Aktivitas fermentasi mikroflora ini merupakan sebagai cara untuk menjaga produk akhir dari fermentasi sakarolitik dan proteolitik. Fermentasi sakarolitik dapat dimetabolisme menjadi energi oleh host (pengaruh positif) dan sebaliknya produk akhir dari fermentasi proteolitik adalah zat kimia (senyawa N-nitroso, ammonia, amine dan lainnya) yang dapat menjadi racun bagi host (pengaruh negatif).

Beberapa strain bakteri yang ada dalam usus seperti Streptococcus bovis, Helicobacter pylori terlibat dalam patogenesis kanker usus. Sebaliknya beberapa strain bakteri yang juga terdapat dalam usus seperti Lactobacillus acidophilus menunjukkan aktivitas yang berlawanan yaitu dapat menghambat perkembangan kanker usus yang diinduksi oleh zat karsinogenik. Oleh karena itu keseimbangan di antara bakteri “menguntungkan” dan yang “merusak” dapat memberikan implikasi besar terhadap berkembang atau tidaknya suatu penyakit dalam host. Telah dilaporkan bahwa berubahnya proporsi mikroba dalam usus mempengaruhi bioaktivasi zat karsinogenik atau dengan kata lain mengubah juga resiko terjadinya kanker.

Mekanisme peran herbal dalam kesehatan pencernaan

Saat ini telah banyak kajian yang menunjukkan bahwa komponen pangan secara signifikan dapat mengubah keseimbangan mikrobiota dalam usus. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi 10 g inulin (salah satu prebiotik) perhari selama 16 hari dapat meningkatkan persentase kelimpahan bifidobakteri (bakteri ramah) dalam usus 4 kali lipat dibanding yang tidak mengkonsumsi. Efek modulasi (pengaturan) mikrobiota ini juga ternyata diperlihatkan oleh komponen-komponen kimia aktif yang banyak terkandung dalam herba. Senyawan fenol yang tidak diserap dan metabolitnya seperti elagitanin diidentifikasi merupakan senyawaan yang bertanggung jawab dalam peningkatan persentasi bifidobakteri dan lactobacillus dalam total mikrobiota pada usus tikus.

Beberapa senyawa fenolik telah dikenal sebagai senyawaan yang berpotensi sebagai antibakteri. Melalui konsumsi senyawaan fenolik ini dapat diharapkan kemampuannya untuk menekan perkembangan bakteri patogen dalam sistem pencernaan. Resveratol, suatu senyawaan antioksidan yang banyak terdapat dalam anggur, menunjukan daya hambatan terhadap perkembangan Proteus mirablis, suatu patogen penyebab infeksi saluran pencernaan.

Selain mekanisme antibakteri, senyawaan aktif herba juga bekerja melalui mekanisme antipelekatan. Proantosianidin, sejenis antioksidan, dari buah beri efektif dalam menghambat pelekatan Eschericia coli dalam sel saluran pencernaan.

Herba-herba untuk bahan pangan kesehatan pencernaan

Mayoritas hasil penelitian saat ini menunjukkan bahwa komponen bioaktif herba yang berperan dalam mekanisme penjagaan kesehatan pencernaan termasuk dalam golongan polifenol. Tidak dipungkiri karena secara umum senyawaan polifenol juga banyak terdapat dalam sayuran dan buah-buahan. Oleh karena itu, beberapa herba yang telah dikaji manfaatnya untuk memelihara sistem kesehatan pencernaan adalah herba yang kaya akan senyawaan polifenol seperti teh dan kunyit.

Teh merupakan herba yang dikonsumsi secara luas dan dikenal sangat kaya akan senyawaan fenolik seperti epikatekin, katekin, asam galat, asam kafeat dan yang lainnya. Ekstrak teh diidentifikasi dapat memberikan hambatan terhadap perkembangan bakteri –bakteri pathogen dalam usus. Sementara itu, bakteri-bakteri “ramah” seperti bifidobakteri dan lactobacillus relatif tidak terpengaruh oleh senyawaan fenolik teh.

Selain menjadi salah satu tumbuhan obat yang paling sering digunakan dalam ramuan jamu, kunyit juga umum digunakan sebagai rempah dalam resep makanan baik itu untuk perwarna maupun pemberi nuansa rasa. Fungsi fisiologis kunyit di sebabkan karena kandungan senyawan fenoliknya seperti kurkumin dan kurkuminoid. Ekstrak kunyit memperlihatkan efek hambatan terhadap pertumbuh bakteri patogen Helicobacter pylori. Lebih jauh, ekstrak kunyit juga dapat memberikan efek hambatan terhadap perlekatan H. pylori dalam saluran pencernaan.

Masih tedapat banyak tumbuhan obat yang secara kimia kaya akan kandunga polifenol. Oleh Karena itu tidak menutup kemungkinan herba lain yang kaya akan polifenol dijadikan bahan makanan untuk kesehatan pencernaan. Tanaman lain yang dapat dicoba adalah temulawak, salam, daun seledri, rimpang jahe, rimpang temu kunci, daun katuk, daun beluntas dan daun jati belanda. Tetapi tetap harus memperhatikan, bahwa pencampuran herba ke dalam makanan tidak menyebabkan rusaknya nutrisi komponen utama, memberikan sifat sensori yang dapat diterima konsumen, dan tidak menyebabkan hilangnya fungsi fisiologis herba itu sendiri akibat proses pembuatan makanannya.

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s