oleh : Yissa Luthana Prayogo

Seorang anak perempuan mengeluh pada ayahnya tentang hidup dan kesulitan hidup. Dia tidak tahu bagaimana dia akan berhasil dan ingin menyerah. Dia lelah berjuang. Tampaknya begitu satu masalah dipecahkan, yang baru muncul.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Dia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Segera air di panci-panci itu mendidih. Panci pertama diberi wortel,  yang kedua diberi telur, dan terakhir ditambahkan kopi bubuk. Pria itu lalu mengajak putrinya duduk, menunggu ketiga pancinya mendidih, tanpa berbicara sepatah katapun.

Putri mengisap giginya dan tak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang dilakukan ayahnya. Dua puluh menit kemudian ayah mematikan kompor. Dia menyisihkan wortel dan menaruhnya dalam mangkuk. Dia mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk. Lalu ia menyendok kopi dan meletakkannya ke gelas.
Sang Ayah bertanya kepada putrinya. “Apa yang kau lihat?”

“Wortel, telur, dan kopi,” jawab putrinya.

Ayah mengajak putrinya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan berkomentar kalau wortelnya lunak. Ayah kemudian meminta putrinya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah menarik off shell,  si putri mengamati telur rebus.

Akhirnya, sang ayah meminta putrinya untuk mencicipi kopi. Putri tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang unik.

Putri bertanya, “Kenapa ayah menyuruhku melakukan ini?”

Sang ayah menjelaskan bahwa masing-masing item telah menghadapi kesulitan yang sama yaitu air mendidih tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. wortel sebelum masuk ke air mendidih, teksturnya begitu kuat dan keras. Tapi setelah terkena air mendidih, wortel melunak dan jadi lemah. Untuk telur yang rapuh, yang isinya cairan kental. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang cair interior. Tapi setelah direbus di dalam air mendidih, isinya menjadi mengeras.  Untuk biji kopi yang berbentuk bubk dan beraroma unikSetelah berada di dalam air didih, berubah membaur menjadi cair.

“Kamu termasuk yang mana?” tanya ayah kepada putrinya. “Ketika kesulitan mengetok pintumu, bagaimana kau akan menanggapinya? Apakah sepertiwortel, telur, atau kopi?”

agaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

One response »

  1. lia says:

    mantipp, menginspirasi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s