Di kaki bukit Antabrata, terdapat sebuah desa yang sangat unik, bernama Desa Sukasendiri. Seperti nama desanya, kepribadian warga desa tersebut sangat individualis. Jarang atau bahkan tidak pernah terlihat tetangga berkunjung ke tetangga, atau berbagi makan antar tetangga. Warga yang hanya memanen kubis tidak pernah merasakan nikmatnya wortel yang dipanen warga yang hanya memanen wortel. Warga yang hanya berternak ayam, tidak pernah merasakan nikmatnya ikan warga yang hanya berternak ikan. Selain dikenal pelit (kikir), mereka juga dikenal menutup diri dari dunia luar. Meskipun begitu, warga desa Sukasendiri cukup hidup makmur dan sejahtera karena dianugerahi Tuhan lahan pertanian yang subur.

Suatu hari ada seorang Musafir mengunjungi desa itu. Setiap rumah yang dilaluinya langsung menutup pintunya. Musafir itu dianggap pengemis kelaparan yang datang untuk meminta sumbangan.

Tiba-tiba, saat duduk di tengah persimpangan jalan di tengah desa, sang musafir mengeluarkan ransel yang berisi peralatan memasaknya. Ia membuat perapian, lalu meletakkan panci berisi air di atasnya.

Tak lama kemudian, sang musafir mengambil batu-batu dari jalanan dan memasukkannya ke dalam panci. Ternyata ia sedang membuat sup batu. Sedikit bubuk penyedap rasa lalu ia tambahkan ke supnya.

Semua warga desa Sukasendiri yang bersembunyi di dalam rumah ternyata sudah lama mengintip aksi sang musafir yang sedang memasak sup batu, dari balik pintu atau jendela. Dalam batin mereka, “apa yang dimasak pria aneh itu?”. Sampai aroma sup batu yang nikmat itu menjalar melalui asap ke hidung-hidung warga desa Sukasendiri. Penasaran dan tertarik, satu persatu warga Desa Sukasendir mendatangi sang musafir yang sedang asyik menikmati semangkok sup batu seorang diri.

“Tuan, apa itu?”

“Sup. Sup batu.”

“Sup batu?”

“Ya. Silahkan mencoba!”

Tanpa berpikir panjang, satu persatu warga mencicipi rasa kuah sup batu sang musafir. Ternyata rasanya sangat enak dan membuat ketagihan. Melihat itu, sang musafir lalu berkata,

“Pasti lebih enak bila sup ini ditambah kubis dan wortek. Juga daging ayam dan ikan.”

Tanpa disuruh, warga yang baru memanen kubis berlari pulang mengambil kubisnya, warga yang baru memanen wortel berlari pulang mengambil wortelnya, warga pertenak ayam berlari pulang mengambil daging ayamnya, dan warga yang berternak ikan berlari pulang mengambil beberapa ikan milknya. Saat kembali berkumpul, warga-warga itu menambahkan kubis, wortel, daging ayam, dan daging ikan ke dalam sup batu. Setelah diaduk beberapa menit, sup batu spesial itu terlihat sudah matang.

“Aku bosan dengan kubis, aku akan makan wortelnya.”

“Aku bosan dengan wortel, akan aku ambil kubisnya.”

“Aku bosan dengan daging ayam, kebetulan ada ikan.”

“Aku bosan dengan daging ikan, wahhhh mumpung ada daging ayam, asyikkk.”

Tanpa disadari, warga-warga yang terbiasa menutup diri dan pelit itu kini sedang berbagi dan bersosialiasi.

Melihat itu, sang musafir tersenyum sendiri, lalu menatap semut-semut kecil yang berdatangan mengerumuni tetes-tetes kuah yang terjatuh ke batu-batu di jalanan.

About Khamir_Yeast

Pengajar dan Penulis Independen, Penyayang Kucing, Karakter : Humoris tapi Gampang Tersinggung, Agak temperamental dan cepat emosi, Cepat memaafkan, Lebih suka menganalisa sebelum berkomentar, Bersahabat tapi gak suka dengan orang yang Lebay. Suka makanan yang pedas. Hobi melukis, berenang, dan memasak. Moto Hidup : BATU saja bisa PECAH apalagi MASALAH ....

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s